Tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman saya ketika tinggal di Desa Banjar Sari Kecamatan Enggano pada tahun 1976 – 1982. Saat itu masih bersekolah di SD Banjar Sari. Mungkin kondisi saat ini masih sama atau sudah berubah seiring perkembangan zaman. Tetapi pengalaman kearifan lokal ini kalau sudah punah dapat dihidupkan kembali. Kalau masih ada dapat dilestarikan.
Pulau Enggano, sebuah pulau terluar di Samudra Hindia yang secara administratif berada di Provinsi Bengkulu, menyimpan kekayaan kearifan lokal yang tumbuh dari interaksi panjang antara manusia, alam, dan tantangan hidup yang khas wilayah kepulauan. Salah satu wujud kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini adalah sistem bertani padi dalam satu hamparan yang dijaga bersama dari gangguan hama babi hutan. Sistem ini bukan sekadar teknik pertanian, melainkan sebuah tata nilai sosial yang mengikat warga dalam semangat gotong royong, keadilan, dan tanggung jawab kolektif.
Dalam konteks pertanian padi, masyarakat Enggano memahami bahwa alam pulau dengan hutan yang masih relatif luas menyimpan potensi konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya babi hutan. Babi hutan merupakan hama utama yang dapat merusak tanaman padi dalam waktu singkat. Alih-alih menghadapinya secara individual, masyarakat Enggano mengembangkan sebuah sistem kolektif yang terbukti efektif secara sosial dan ekologis, yakni bertani dalam satu hamparan dan melindunginya dengan pagar keliling yang menjadi tanggung jawab bersama.
Sistem Hamparan: Bertani dalam Kesatuan Sosial
Sistem satu hamparan berarti lahan pertanian padi tidak dikelola secara terpisah-pisah oleh masing-masing petani, melainkan disatukan dalam satu kawasan yang luas. Hamparan ini ditanami secara serempak, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga masa panen. Keserempakan ini memiliki banyak manfaat, baik dari sisi teknis pertanian maupun sosial.
Secara teknis, penanaman serentak mampu menekan risiko serangan hama karena siklus pertumbuhan tanaman relatif sama. Tidak ada petak sawah yang terlalu muda atau terlalu tua yang dapat menarik hama secara tidak merata. Dari sisi sosial, sistem hamparan menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat. Setiap petani menyadari bahwa keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja individu, tetapi buah dari kesepakatan dan kerja kolektif seluruh anggota komunitas.
Dalam sistem ini, batas kepemilikan lahan tetap diakui, namun kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Prinsip inilah yang menjadi fondasi kuat bagi lahirnya mekanisme perlindungan bersama terhadap hama babi.
Pagar Keliling sebagai Simbol Gotong Royong
![]() |
| Gotong Royong Menjaga Pagar Sawan di Enggano |
Untuk melindungi hamparan padi dari serangan babi hutan, masyarakat Enggano membangun pagar keliling yang mengitari seluruh area persawahan. Pagar ini dibuat dari bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar, seperti kayu, bambu, dan material alami lainnya. Namun yang paling penting bukanlah material pagar itu sendiri, melainkan sistem tanggung jawab yang menyertainya.
Pagar keliling dibagi menjadi beberapa bagian, dan setiap bagian menjadi tanggung jawab satu keluarga atau satu petani. Panjang pagar yang menjadi tanggung jawab tiap orang disepakati bersama, biasanya disesuaikan dengan luas lahan atau kesepakatan adat yang berlaku. Setiap pemilik tanggung jawab wajib membangun, merawat, dan secara rutin menjaga bagian pagar tersebut.
Pagar dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai penghalang fisik bagi babi hutan, tetapi juga sebagai simbol komitmen sosial. Pagar menjadi batas moral yang mengikat individu dengan kepentingan komunitas. Merawat pagar berarti menjaga hak hidup dan sumber penghidupan bersama.
Sanksi Adat dan Rasa Keadilan Sosial
Salah satu aspek paling menarik dari sistem ini adalah mekanisme sanksi sosial yang diterapkan secara adil dan disepakati bersama. Apabila terjadi kerusakan tanaman padi akibat babi hutan yang masuk melalui bagian pagar yang menjadi tanggung jawab seseorang, maka orang tersebut wajib mengganti kerugian padi yang dimakan atau dirusak oleh babi.
Sanksi ini tidak dimaknai sebagai hukuman semata, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral. Tidak ada paksaan dari aparat atau lembaga formal, karena sanksi ini dijalankan berdasarkan kesadaran kolektif dan nilai adat yang kuat. Rasa malu, harga diri, dan kehormatan menjadi mekanisme pengendali sosial yang jauh lebih efektif dibandingkan hukuman formal.
Dengan sistem ini, setiap orang terdorong untuk menjaga pagar sebaik mungkin. Kelalaian bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga tetangga dan seluruh komunitas. Rasa saling bergantung inilah yang membuat sistem ini bertahan lintas generasi.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang Terkandung
Praktik bertani padi dalam satu hamparan dengan pagar tanggung jawab bersama mencerminkan sejumlah nilai kearifan lokal yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Pertama adalah nilai gotong royong, di mana pekerjaan berat menjadi ringan karena dilakukan bersama. Kedua adalah nilai keadilan, karena setiap orang menanggung konsekuensi sesuai tanggung jawabnya.
Ketiga adalah nilai disiplin dan kepedulian terhadap lingkungan. Masyarakat Enggano tidak membasmi babi hutan secara berlebihan, melainkan mengatur batas interaksi dengan satwa liar secara bijak. Pagar menjadi solusi yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.
Keempat adalah nilai musyawarah. Semua aturan, mulai dari pembagian pagar hingga bentuk ganti rugi, ditetapkan melalui kesepakatan bersama. Tidak ada keputusan sepihak, sehingga setiap anggota komunitas merasa memiliki sistem tersebut.
Relevansi di Tengah Tantangan Zaman
Di tengah arus modernisasi dan individualisme, kearifan lokal masyarakat Pulau Enggano ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya solidaritas sosial dalam pengelolaan sumber daya alam. Sistem ini membuktikan bahwa solusi atas persoalan pertanian tidak selalu harus datang dari teknologi mahal atau intervensi eksternal, tetapi dapat lahir dari pengetahuan lokal yang tumbuh dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam.
Model ini juga relevan untuk dijadikan rujukan dalam pengembangan pertanian berkelanjutan, khususnya di wilayah pedesaan dan kepulauan yang memiliki tantangan serupa. Dengan memperkuat kembali nilai-nilai kolektif dan adat, ketahanan pangan dapat dibangun secara lebih inklusif dan berkeadilan.
Penutup
Kearifan lokal masyarakat Pulau Enggano dalam mengelola pertanian padi melalui sistem hamparan dan pagar tanggung jawab bersama merupakan cerminan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai sosial. Di balik pagar sederhana yang mengelilingi sawah, tersimpan filosofi hidup tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan keadilan.
Tradisi ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi modal sosial yang sangat berharga untuk masa depan. Selama nilai-nilai gotong royong dan kesadaran kolektif tetap dijaga, masyarakat Enggano akan terus mampu bertahan dan berdaulat atas pangan mereka, meskipun hidup di pulau kecil yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan.

0 Komentar
Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda