Jumat, 15 Februari 2019

Lingkungan hidup merupakan karunia Allah SWT untuk semua makhluknya yang ada di muka bumi. Kerusakan lingkungan hidup kebanyakan disebabkan oleh faktor tangan manusia. Akibatnya adalah penurunan kualitas lingkungan hidup hingga berkurangnya rasa nyaman, atau bahkan berakibat gangguan kesehatan manusia. Bukan saja manusia yang merasakan, akan tetapi hilangnya komponen biologis lingkungan.

Kualitas lingkungan ini harus dijaga kelestariannya, karena kan berdampak yang tidak baik jika meninggalkan lingkungan yang rusak bagi kelangsungan hidup manusia selanjutnya. Sehingga Pemerintah telah menetapkan diperlukan adanya ijin lingkungan bagi sebuah usaha yang akan berdampak bagi lingkungan. Salah satunya adalah pendirian pabrik beton ready mix (batching plant). Ijin lingkungan berupa UKL UPL.


Dampak Lingkungan Baching Plant saat operasi
Limbah Batcihng Plant saat Operasi

Pada  UKL UPK dituangkan prakiraan dampak, sumber dampak, besaran dampak dan upaya pengelolaan dampak tersebut. Perkiraan besaran dampak tersebut adalah sebagai berikut.

1.  Penurunan Kualitas Udara

Sumber dampak yang muncul adalah dalam kegiatan transportasi, yang dapat menimbulkan gas pencemar sehingga dapat mengganggu kualitas udara ambient di sekitar Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete

Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
  • Meningkatnya kandungan SO2, NO2 dan kadar debu dari aktivitas operasi transportasi Truk Mixer di lokasi kegiatan yang nantinya mengakibatkan pencemaran udara
  • Besaran dampak diprakirakan bersumber dari aktifitas truk Mixer mengakibatkan peningkatan partikel debu dan peningkatan polutan gas yang berasal dari asap kendaraan adalah SO2 = 43,26, NO2 = 32.72, TSP = 60.84.
  1. Perbaikan dan perawatan mesin-mesin yang digunakan. 
  2. Menenam tanam-tanaman pekarangan sebagai biofilter udara dan untuk ruang terbuka hijau agar dapat menambah kesegaran udara di lokasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete 
  3. Tidak melalukan pembakaran sampah di lokasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete


2.  Peningkatan Kebisingan

Sumber dampak yang muncul adalah dalam kegiatan transportasi dan genset

Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
  • Dari kegiatan transportasi dan genset Jenis dampak yang muncul adalah meningkatnya kebisingan di lokasi kegiatan
  • Besaran kebisingan yang terukur adalah 36 - 60  decibel (dB)
  1. Perbaikan dan perawatan mesin-mesinsecara berkala.
  2. Membuat tempat genset permanen dengan dinding yang kedap suara



    3.  Limbah Padat

    Sumber dampak berasal dari aktivitas karyawan berupa sampah plastik, kemasan, kertas pembungkus maupun sisa bekas  makanan minum pekerja.

    Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
    • Dari aktivitas karyawan, berupa sampah plastik, kemasan, kertas pembungkus maupun sisa bekas  makanan minum pekerja. Jenis dampak yang muncul adalah timbulan sampah, kerumunan lalat dan vektor penyakit.
    • Prakiraan limbah padat yang dihasilkan pada tahap operasional dilihat dari keseluruhan karyawan yang bekerja sebanyak  24 orang x 0,3 Kg = 72 kg/hari limbah padat yang dihasilkan oleh satu orang mengacu pada SNI 04-01993-03
    1. Penyediaan tong-tong sampah yang kuat, cukup ringan, tahan karat dan kedap air, mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya dan tertutup yang mudah dibuka dan ditutup.
    2. Dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik, dikosongkan dan dibersihkan 1 x 24 jam sesuai konsep 3R dan 4R.
    3. Sampah padat dibuang melalui kerjasama dengan Dinas Kebersihan Kabupaten

      4.  Limbah Cair

      Sumber dampak yang muncul adalah dalam kegiatan MCK, air hujan

      Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
      • Jenis dampak yang muncul adalah limbah cair.
      • Jenis dampak yang muncul adalah limbah cair.Besaran dampak limbah cair yang terukur adalah jumlah limbah cair/hari, besaran dampak dilihat dari limbah cair domestik dari aktifitas MCK dengan parameter BOD 30 mg/l, COD 50 mg/l, TSS 50 mg/l, pH 6-9.
      1. Khusus untuk limbah yang berasal dari WC dialirkan ke septik tank.
      2. Dibuat pemisahan saluran air limbah dan saluran air hujan.
      3. Untuk oli bekas dari mesin genset diberikan kepada pihak ketiga yang mempunyai izin dari Kementerian Lingkungan Hidup.
      4. Limbah cair yang berasal dari kamar mandi harus dikelola dalam Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) dengan sistim STP.

          5.  Limbah B3

          Sumber dampak Limbah B3 berupa oli bekas berasal dari kegiatan genset, kendaraan dan tinta print dari aktvitas kantor.

          Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
          • Adanya ceceran, tumpahan oli bekas dan tinta print di permukaan lantai/tanah sehingga menurunkan kualitas tanah
          • Dampak dari ceceran oli bekas dan tumpahan tinta print ini  terjadi selama kegiatan genset, kendaraan maupun aktivitas perkantoran berlangsung. Pengelolaan oli bekas dan tintan print dilakukan secara terpadu dengan pihak Pemrakarsa yang sudah tertuang dalam SOP. Namun hal tersebut akan berpengaruh terhadap lingkungan jika tidak dilakukan pengelolaan dan monitoring sesuai prosedur yang berlaku sesuai dengan peraturan pengendalian limbah B3
          1. Mengumpulkan oli bekas ke dalam drum dan disimpan di dalam TPS Limbah B3 dan selanjutnya diserahkan kepada pihak ketiga yang mempunyai izin pengelolaan limbah B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup.
          2. Menyediakan TPS Limbah B3 yang memadai untuk penyimpanan Limbah B3 sesuai dengan tata cara penyimpanan yang telah ditetapkan.
          3. Kemasan oli bekas berupa drum, pola penyimpanan, penumpukan harus mempertimbangkan kestabilan dan dipastikan tidak ada kebocoran.
          4. Membuat catatan/dokumentasi penyerahan limbah B3 yang baik, sehingga memudahkan pada saat diperlukan untuk pemeriksaan maupun pemantauan

                5.  Kesempatan Kerja dan Berusaha

                Sumber dampak terhadap komponen sosial adalah tata cara penerimaan tenaga kerja.

                Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
                • Jenis dampak yang timbul adalah terbukanya penerimaan tenaga kerja dengan berbagai macam spesifikasi pekerjaan
                • Besaran dampak dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang diterima selama kegiatan tahap operasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete  yaitu sebesar 24 orang
                1. Menginformasikan penerimaan karyawan serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan.
                2. Diprioritaskan masyarakat yang berada di sekitar lokasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete

                6. Sikap dan Persepsi Masyarakat

                Sumber dampak berasal dari sikap dan persepsi masyarakat tentang penerimaan tenaga kerja dan operasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete.

                Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
                • Tidak timbul keresahan hingga konflik sosial dari masyarakat kepada pihak pemrakarsa pada saat dilakukan penerimaan tenaga kerja
                • Persentase masyarakat yang setuju lebih banyak dari pada masyarakat yang tidak setujuBesaran dampak dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang diterima selama kegiatan tahap operasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete  yaitu sebesar 24 orang
                1. Dalam proses rekrutmen karyawan baru Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete  mengutamakan masyarakat sekitar lokasi kegiatan sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan.
                2. Menginformasikan penerimaan tenaga kerja serta kualifikasi tenaga yang dibutuhkan oleh pihak perusahaan.
                3. Upah yang diberikan kepada tenaga keminimal standar UMR Kabupaten





                  7. Kesehatan Masyarakat

                  Kegiatan ini bersumber dari kegiatan operasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete  yang dapat menimbulkan penyakit yang disebabkan oleh partikel debu dari kendaraan

                  Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
                  • Dampak yang timbul adalah mengakibatkan gangguan dan penularan penyakit oleh vektor baik secara mekanik maupun biologis
                  • Besaran dampak dapat dilihat dari karyawan yang terserang penyakit.
                  1. Membersihkan ceceran tanah di jalan umum.
                  2. Melakukan penyiraman secara periodik jika melewati jalan tanah desa.
                  3. Mewajibkan seluruh pekerja operasional untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam bekerja.
                  4. Memberikan sanksi pemberentian untuk pekerja operasional yang dalam bekerja dapat membahayakan dirinya atau diri orang lain


                      8. Keselamatan Kerja

                      Sumber dampak terhadap kesehatan dan keselamatan kerja adalah operasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete, sarana dan fasilitas yang kurang tertata dan terawat baik, ceceran/kebocoran minyak pelumas, kelalaian dan ketidak pedulian petugas dalam menjalankan kegiatan, ketidak pedulian karyawan untuk mematuhi larangan yang ditetapkan dilokasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete dan alat pemadam kebakaran dan P3K serta kurangnya perhatian terhadap sistem sanitasi, kebersihan dan pengelolaan limbah.

                      Jenis DampakBesaran DampakUpaya Pengelolaan Lingkungan
                      • Jenis dampak yang timbul adalah munculnya berbagai penyakit yang diderita pekerja dan/atau masyarakat sekitar, kecelakaan kerja, kebakaran akibat kegiatan operasi Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete
                      • Dampak terjadi selama kegiatan operasi berlangsung, besaran terukur berupa zero accident, tidak terjadi kebakaran, tingkat kesehatan pekerja yang baik dan tidak adanya keluhan dan komplain dari masyarakat sekitar kegiatan Pembuatan Ready Mix dan Prestressed Concrete
                      1. Menerapkan sistem manajemen K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
                      2. Memberikan sanksi untuk pekerja yang dalam bekerja dapat membahayakan dirinya atau diri orang lain
                      3. membuat pagar tembok pengaman disekitar lokasi kegiatan



                            Demikian pembahasan prakiranan dampak lingkungan yang akan timbul dan upaya pengelolaanya pada pabrik bton ready mix (batching plant) saat pelaksaan operasi. Semoga uraian singkat ini dpat bernanfaat.

                            Minggu, 20 Januari 2019

                            Pendahuluan


                            Pemrakarsa Proyek telah mengintegrasikan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi ke dalam dokumen kontrak pekerjaan pemborongan fisik konstruksi jalan tol kepada kontraktor PT. Adhi Karya (persero), karena itu kontraktor wajib melaksanakan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), sedangkan pelaksanaan Rencana Pemantauan Lingkungan dikerjakan oleh Konsultan Supervisi PT. Eskapindo Matra.


                            Aktifitas Dump Truck yang mengakibatkan pencemaran debu

                            Dokumen laporan pelaksanaan RKL dan RPL pembangunan jalan tol ruas Ngawi-Kertosono Paket 3 merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan dokumen laporan pelaksanaan RKL kegiatan pembangunan ruas jalan tol paket pekerjaan yang saat ini dikelola oleh investor BUJT (PT. SNJ dan PT. NKJ ), serta pembangunan ruas jalan tol yang dikelola langsung oleh Pemerintah (Ditjend Bina Marga) dibawah pengendalian satker APBN. 

                            Oleh sebab itu diperlukan upaya terintegrasi dalam suatu tim kordinasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan, agar dampak negatif dapat dikelola menjadi dampak positif secara berkelanjutan. Untuk memudahkan pengawasan dan evaluasi hasil pelaksanaan RKL dan RPL maka dibuat laporan pelaksanaan RKL – RPL sesuai keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomer 45 tahun 2005.


                            Metode Penulisan

                            Penulsain ini menggunakan studi pustaka dari hasil laporan RKL RPL yang dilaksanakan pada saat konstruksi Pembangunan Jalan Tol Ngawi Kertosono pada tahun 2016.

                            Metode Pengambilan Data

                            Pengukuran kualitas udara ambien, termasuk partikel debu total (Dust Suspended Particulate) mengacu kepada SNI 19-7119.9-2005.  Menggunakan alat-alat Graseby Dust Sampler, Gas Impinger, sebagaimana tampak pada gambar.

                            Langkah-Langkah Pengukuran dan analisa sebagai berikut :   

                            a. Graseby (Dust Sampler) untuk pengukuran debu total :
                            • Graseby (Dust Sampler) dipasangi filter dan pompa vakum dinyalakan selama 1-3 jam (cuaca kering), maksimal 7 jam (cuaca basah, malam hari) selama durasi 24 jam untuk mendapatkan 2 contoh, masing-masing mewakili siang dan malam hari.
                            • Setelah selesai, filter diangkat dan disimpan dalam kemasan plastik agar tidak lembab.
                            • Filter ditimbang di laboratorium untuk mengetahui berat debu yang tertangkap dan akan diketahui volume debu di lokasi sampling.

                            b. Gas Impinger untuk pengambilan contoh udara ambien :
                            • Menyiapkan sumber-sumber gas : Gas-gas SO2 (Sulfur Dioksida), CO (Karbon Monoksida), NO2 (Nitrogen Dioksida), HC (Hidrokarbon), dan Pb (Timbal).
                            • Gas Impinger dipasang selama 1 jam untuk menangkap gas ke dalam tabung reaksi yang telah diberi reagent pengikat gas.

                            c. Analisa Laboratorium
                            • Matrik Metode Analisis Laboratorium Kualitas Udara Ambien
                            NO.
                            Parameter
                            Metode pengukuran
                            Alat Analisis
                            Acuan/Pedoman ANALISIS
                            1
                            Sulfur Dioksida (SO2)
                            Parorosalinin
                            Spectrophotometer
                            SNI 19-7119.7-2005
                            2
                            Karbon Monoksida (CO)
                            NDIR
                            Infrared Absroption Unit Spectrophotometer
                            SNI 19-7117.10-2005
                            3
                            Nitrogen Dioksida (NO2)
                            Saltzman
                            Chemilunminescen Spectrophotometer
                            SNI 19-7119.2-2005
                            4
                            Hidrokarbon (HC)
                            Nessler
                            AAS
                            SNI 19-7119.13-2009
                            5
                            Debu (TSP)
                            Gravimetrik
                            Gravimetrik
                            SNI 19-7119.3-2005
                            6
                            Timbal (Pb)
                            Gravimetrik
                            Gravimetrik
                            SNI 19-7119.4-2005




                            Hasil dan Pembahasan 


                            Hasil pemeriksaan kualitas udara ambient yang dilaksanakan sebelum kontsruksi dan saat awal konstruksi tanggal 27 Oktober 2015 pada Pukul 09.45, di Purworejo STA 119+825  pada posisi Ordinat  S 07°31’14,6”  dan E 111°38’09,0” (KU-5-1) dan di Desa Klumutan STA 128+000 pada posisi ordinat S07°32’05,1”  dan E 111°42’24,4” (KU-5-2), dilaporkan sebagai berikut :


                            No.
                            Paramater
                            Satuan
                            Hasil Analisis
                            Baku Mutu

                            Fisik

                            KU 5-1
                            KU 5-2

                            1
                            Suhu Ambient
                            °C
                            37
                            39,5
                            -
                            2
                            Kelembaban
                            %
                            44
                            40
                            -
                            3
                            Tekanan Barometer
                            mmHg
                            759,3
                            756,8
                            -
                            4
                            Cuaca
                            -
                            Berawan
                            Berawan
                            -
                            5
                            Kecepatan Angin
                            Km/jam
                            3,1-6,3
                            9,9-13,9
                            -
                            6
                            Arah Angin
                            -
                            Selatan
                            Timut
                            -

                            Kimia




                            7
                            SO
                            µg/Nm³
                            0,510
                            0,710
                            632
                            8
                            NO
                            µg/Nm³
                            24,48
                            34,22
                            316
                            9
                            O
                            µg/Nm³
                            2,107
                            2,542
                            200
                            10
                            HS
                            Ppm
                            <0,003
                            <0,003
                            0,02
                            11
                            NH
                            Ppm
                            0,455
                            0,569
                            2,0
                            12
                            TSP (debu)
                            µg/Nm³
                            216,5
                            1337,2
                            230
                            13
                            Pb (timbal hitam)
                            µg/Nm³
                            0,018
                            <0,005
                            2
                            14
                            Kebisingan
                            dB A
                            60,87
                            65,52
                            60
                                     Sumber : Laporan Pengujian UPT Lab.Pusat MIPA UNS, 27-10-2015.


                            a. Analisis Perbedaan /Perubahan Cuaca (2)

                            Pengukuran parameter suhu, kelembaban, tekanan udara, cuaca, kecepatan angin dan arah angin, masing masing dilakukan sebanyak 2 kali pada 2 titik (6x2=12 titik) dengan waktu yang berbeda (pagi dan siang). Pengamatan pertama dilaksanakan pukul 09.45 dan pengamatan kedua dilakukan pukul 11.40 WIB. Pada setiap pengamatan parameter tersebut, kecuali parameter suhu ambient, kondisi di Desa Purworejo lebih tinggi dibanding dengan kondisi di Desa Klumutan. Namun kondisi suhu ambient di Klumutan lebih tinggi disbanding suhu ambient di Desa Purworejo. Maka tidak heran jika di Desa Klumutan terasa lebih panas disbanding di Desa Purworejo.

                            b. Analisis Unsur Pencemar SO₂, NO₂, O₃, H₂S, NH₃ dan CO ( 12)

                            Pengukuran unsur-unsur SO₂, NO₂, O₃, H₂S, NH₃ dan CO dilakukan masing-masing sebanyak 2 kali pada 2 titik berbeda (6x2=12 titik). Pada kedua lokasi tersebut yaitu di STA 119+825 Desa Purworejo dan STA 128+000 Desa Klumutan tampak bahwa kondisi udara masih dibawah baku mutu yang ditentukan. Artinya tidak ada gangguan cuaca sekitar lokasi proyek pada saat konstruksi. 

                            c. Analisis Pencemaran Debu (2)

                            Pengukuran debu dilaksanakan pada 2 titik. Dilaporkan bahwa kondisi debu di lokasi Desa Purworejo STA 128+000 sebesar 1337,2 µg/Nm³. Artinya terjadi  pencemaran, sebab nilainya lebih besar dari baku mutu yang ditetapkan yaitu 230 µg/Nm³. Sehingga dapat dikatakan bahwa di area STA 128+000  Desa Klumutan tercemar oleh debu. Sumber penyebab pencemaran adalah operasi truk dan alat berat yang lalu lalang di atas permukaan tanah kering berdebu. Pada ketinggian 104 dpl, debu yang berhamburan bergerak kearah timur karena ditiup angin.

                            Berbeda dengan kondisi di Desa Purworejo STA 119+825, pencemaran debu masih dibawah baku mutu yang ditentukan. Hal ini karena di lokasi tersebut tidak terdapat aktivitas konstruksi.

                            Kesimpulan


                            Parameter pencemar udara yang melebihi baku mutu adalah debu TSP. Sedangkan parameter lainnya masih dibawah baku mutu lingkungan. Pengendalian yang dilakukan adalah dengan menutup kendaraan dengan terpal dan melakukan penyiraman di jalan yang dilalui kendaraan berat.

                            Blog Archive

                            Blogger Bengkulu

                            Warung Blogger

                            Posts Terbaru

                            Popular Posts

                            Follow by Email