Jejak Ketekunan Sutarjono di Banjar Sari (1975)
Pendahuluan
Tahun 1975, Pulau Enggano masih jauh dari hiruk-pikuk pembangunan. Pulau kecil di lepas pantai Bengkulu ini hidup dalam irama alam: laut yang tenang dan garang bergantian, hutan yang lebat, serta hamparan sawah yang dikelola dengan cara-cara tradisional. Jalan masih berupa tanah, listrik belum belum ada, dan pendidikan menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil anak-anak pulau.
Di tengah keterbatasan itulah Pak Guru Sutarjono datang dan mengabdikan diri. Ia bukan hanya seorang pendidik di Sekolah Dasar Banjar Sari, tetapi juga seorang petani, perintis, dan pelaku sejarah kecil yang jejaknya masih dikenang hingga kini. Kisahnya bukan tentang kepahlawanan besar, melainkan tentang ketekunan, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi dengan alam dan masyarakat setempat.
Menjadi Guru di Ujung Negeri
Menjadi guru SD di Banjar Sari pada tahun 1975 bukanlah tugas yang ringan. Pak Guru Sutarjono harus meninggalkan kenyamanan kampung halamannya dan menerima kenyataan hidup di wilayah terpencil. Sarana pendidikan sangat terbatas: ruang kelas sederhana, bangku kayu seadanya, buku pelajaran yang tidak lengkap, dan murid-murid yang sebagian besar harus membantu orang tua mereka di ladang dan sawah.
Namun, justru dalam keterbatasan itulah pengabdian Pak Guru Sutarjono menemukan maknanya. Ia mengajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan semangat untuk belajar. Ia memahami bahwa pendidikan di Enggano bukan sekadar memindahkan ilmu dari buku ke kepala murid, melainkan menanam harapan di tengah keterisolasian.
Pak Guru Sutarjono tidak menjaga jarak dengan masyarakat. Ia tinggal sederhana, bergaul dengan petani, nelayan, dan tokoh desa. Kehadirannya perlahan diterima bukan hanya sebagai “orang sekolah”, tetapi sebagai bagian dari kehidupan Banjar Sari.
Sawah Pak Zuhri dan Pelajaran Kehidupan
Di luar jam mengajar, Pak Guru Sutarjono tidak berpangku tangan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyesuaikan diri dengan pola hidup masyarakat Enggano, ia turut mengolah sawah milik Pak Zuhri, seorang petani sukses yang dikenal memiliki hamparan sawah luas dan kebun cengkeh yang produktif.
Bekerja di sawah Pak Zuhri memberi Pak Guru Sutarjono pelajaran yang tak tertulis di buku sekolah. Ia belajar tentang siklus tanam padi, tentang membaca cuaca, tentang kesabaran menunggu panen, dan tentang kerja keras yang tidak mengenal hari libur. Di pematang sawah itulah ia memahami bahwa pendidikan dan pertanian sejatinya saling terkait: keduanya menuntut ketekunan dan keyakinan pada hasil jangka panjang.
Pak Zuhri sendiri melihat Pak Guru Sutarjono bukan sekadar tenaga bantu, tetapi mitra kerja. Hubungan keduanya mencerminkan nilai gotong royong yang kuat di Banjar Sari—nilai yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Enggano.
Kerbau Enggano: Dari Liar Menjadi Sahabat Kerja
Salah satu bagian paling menarik dari kisah Pak Guru Sutarjono adalah perannya dalam menjinakkan kerbau Enggano. Kerbau lokal Enggano dikenal kuat, tahan banting, tetapi juga liar dan sulit diarahkan. Pada masa itu, kerbau lebih sering dilepas bebas dan jarang dimanfaatkan secara maksimal sebagai tenaga pembajak sawah.
![]() |
| Pak Guru sang penjinak Kerbau Enggano |
Pak Guru Sutarjono melihat potensi besar pada hewan ini. Dengan ketelatenan yang sama seperti saat mengajar murid-muridnya, ia mulai mendekati kerbau Enggano secara perlahan. Ia membuat bubut—alat sederhana untuk mengendalikan kerbau—dari batang kelapa, memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar desa.
Proses menjinakkan kerbau bukanlah perkara singkat. Berkali-kali ia harus bersabar menghadapi kerbau yang memberontak, menolak diarahkan, bahkan mencoba melarikan diri. Namun, dengan pendekatan yang lembut dan konsisten, perlahan kerbau-kerbau itu mulai mengenal sentuhan manusia, memahami aba-aba, dan akhirnya bisa diarahkan untuk bekerja.
Setelah kerbau jinak, Pak Guru Sutarjono mulai menggunakannya untuk membajak sawah. Pemandangan kerbau Enggano yang menarik bajak di sawah Banjar Sari menjadi sesuatu yang baru dan mengundang perhatian warga. Banyak yang percaya bahwa Pak Guru Sutarjono adalah orang pertama yang berhasil menjinakkan dan memanfaatkan kerbau Enggano secara efektif untuk membajak sawah.
Dari Sekolah ke Sawah: Satu Nilai yang Sama
Menariknya, cara Pak Guru Sutarjono menjinakkan kerbau tidak jauh berbeda dengan caranya mendidik murid-muridnya. Ia tidak memaksa, tidak mengandalkan kekerasan, tetapi membangun kepercayaan sedikit demi sedikit. Ia memahami bahwa baik anak-anak maupun kerbau membutuhkan waktu untuk mengenal, memahami, dan menerima arahan.
Nilai inilah yang membuat Pak Guru Sutarjono dikenang bukan hanya sebagai guru, tetapi sebagai teladan. Ia menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jejak yang Tertinggal
Tahun-tahun berlalu, masa tugas Pak Guru Sutarjono di Enggano pun akhirnya berakhir. Selanjutnya pindah tugas ke daerah transmigrasi di Kuro Tidur. Namun, jejak pengabdiannya tetap tertanam di Banjar Sari. Murid-muridnya tumbuh menjadi orang tua, petani, dan tokoh masyarakat. Sawah-sawah tetap digarap, dan kerbau Enggano semakin dikenal sebagai tenaga kerja pertanian yang berharga.
Kisah Pak Guru Sutarjono menjadi bagian dari sejarah kecil yang sering luput dari catatan resmi, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Ia membuktikan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan sepenuh hati.
Penutup
Pak Guru Sutarjono adalah gambaran nyata tentang makna pengabdian. Di Enggano, ia tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga mengolah sawah, menjinakkan kerbau, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Ia menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia pertanian, pengetahuan dengan kearifan lokal.
Kisahnya mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar, melainkan dari manusia-manusia sederhana yang bekerja dengan tulus. Di Banjar Sari, tahun 1975, seorang guru telah menanam benih yang hasilnya masih dapat dirasakan hingga hari ini.

0 Komentar
Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda