Selasa, 21 Mei 2019

21.28.00 No comments

Pendahuluan

Peta Tol Terbanggi Mesuji
Peta Lokasi Proyek Jalan Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang - Kayu Agung 
Ruas Terbanggi – Mesuji Paket 2


Pembangunan Jalan Tol Terbanggi Besar – Kayu Agung dibagi dalam dua ruas yaitu Terbanggi Besar – Pematang  Panggang dan Pematang Panggang – Kayu Agung yang ditetapikan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 2015, tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden  Nomor 100 Tahun 2014 Tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol Di Sumatera.

Izin lingkungan pembangunan jalan tol telah dikeluarkan oleh Gubernur Lampung melalui Surat Keputusan Gubernur Lampung Nomor: G/35a/II.05/HK/2015  tanggal 27 Junli 2015 tentang Izin Lingkungan Rencana Pembanugnan Jalan Tol Ruas Terbanggi Besar – Pematang Panggang Sepanjnag 110 Km di Provinsi Lampung oleh Direktorat Bina Program, Diterktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum.
Adapun dokumen ANDAL telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Ketua Komisi Penilai AMDAL Provinsi Lampung Nomor : 107/Komda/II.05/205. Rencana pembangunan jalan Tol Ruas Terbanggi Besar – Pematang Panggang berada pada 4 kabupaten yaitu: Kabupaten Lampung Tengah, Kabuapten Tulang Bawang Barat, Kabupaten Tulang Bawang dan Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung. Selanjutnya dalam pelaksanaan dibagi dalam beberapa paket antara lain Paket 2 Ruas Terbanggi – Mesuji yang meliputi Kecamatan Terbanggi Besar, Way Pangubuan dan Terusan Nunyai Kabupaten Lampung Tengah.

Tujuan pembangunan Jalan Tol Terbanggi – Mesuji Paket 2 adalah :
  1. Untuk memperlancar lalu lintas di Provinsi Lampung khususnya jalur lintas timur Sumatera.
  2. Penyediaan infrastruktur pengembangan sistim transportasi yang efisien dengan tingkat pelayanan tinggi guna menunjang pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung maupan Nasional.
  3. Meningkatkan hasil dan daya guna pelayanan distribusi barang dan jasa dalam rangka menunjang peningkatan ekonomi Daerah dan Nasional
  4. Meringankan beban dana Pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan,
  5. Meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dan keadilan.


Metode

  1. Pelaksanaan survey sosial ekonomi dan kesehatan pada tanggal 7 - 14 April 2017.
  2. Lokasi survey di sekitar jalan tol yang sedang di bangun, meliputi Desa Terbanggi Kecamatan Terbanggi Besar, Bandar Agung, Gunung Agung, Gunung Batin Kecamatan Terusan Nunyai.
  3. Survey dilakukan dengan wawancara kepada responden masyarakat, pekerja, pedagang, petani, perangkat desa dan juga puskesma di lokasi.
  4. Pengolahan data menggunakan tabulasi dan dianalisis dengan metode deskriptif.

Hasil dan Pembahasan

Distribusi reponden lak-laki sebanyak 75% dan wanita sebanyak 25%. Sedangkan umur responden kebanyakan pada usia lebih dari 50 tahun, distribusi umur responden dapat dilihat selengkapnya pada grafik dibawah ini.

Distribusi umur responden Terbanggi Besar - Mesuji

Jumlah anggota keluarga responden secara rata-rata adalah 4 jiwa. Sedangkan terbanyak adalah 8 jiwa. Hal ini menunjukkan beban keluarga yang cukup besar. Jumlah anggota keluarga yang lebih dari 5 jiwa sebanyak 15% responden dan jumlah keluarga yang kurang dari 3-4 orang sebanyak 85%. 

Pekerjaan responden terbanyak adalah petani yaitu 40% diikuti oleh pekerja pro wiraswasta 35% dan Pekerja proyek dan ibu rumah tangga masing-masing 10%. Pekerja proyek posisi sebagai penjaga keamanan dan flagman. Sedangkan untuk responden wiraswasta adalah ada yang memiliki usaha warung, baik warung yang menetap telah lama sebelum proyek ada atau warung makanan yang dimulai sejak adanya proyek. Konsumennya adalah para pekerja di sekitar proyek tersebut. Sedangkan untuk jenis pekerjaan lainnya adalah guru di pesantren.

Dari sisi penghasilan per bulan responden rata-rata Rp 3,175 juta per bulan. Responden yang memiliki penghasilan diatas 7 juta adalah petani. Kebanyakan responden memiliki penghasilan Rp.1 – 2 juta sebanyak 40%, diikuti range penghasilan  Rp 2 – 4 juta per bulan sebanyak 30%.

Hasil wawancara langsung dengan masyarakat dan pekerja pada bulan bulan April 2017, selanjutnya diolah dengan tabulasi sederhana diperoleh hasil sebagai berikut:


1.    Kesempatan kerja dan Peningkatan Pendapatan

Pelaksanaan proyek jalan tol ini, telah menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk setempat maupun penduduk dari luar daerah dalam jumlah banyak, terutama sebagai pekerja dan karyawan konstruksi jalan. Kesempatan kerja yang tersedia bersifat skill dan unskill, bahkan tercipta kesempatan kerja bersifat hight skill,  misalnya tenaga ahli konsultan dan manager kontraktor. Tenaga bersifat skill misalnya operator alat berat, tukang. Sopir dump truk, sopir mobil operasional, dan sejenisya.

Persepsi masyarakat terhadap kegiatan ini memberikan dampak posititf bagi peningkatan rata-rata pendapatan para pekerja. Persepsi positif ini konstruksi dan juga ketika konstruksi sudah berjalan selama satu tahun. Peningkatan pendapatan dapat dirasakan secara langsung bagi masyarakat yang ikut terlibat secara langsung sebagai pekerja.

Berdasarkan hasil wawancara pendapatan masyarakat, dilaporkan bahwa :
  • Rata-rata pendapatan pekerja konstruksi = Rp 1.500.000,-/bulan.
  • Rata-rata pendapatan usaha baru = Rp 400.000,-/bulan.
  • Rata-rata pendapatan wiraswasta/pedagang =Rp 1485.000,-
  • Rata-rata pendapatan pemilik kontrakan rumah = Rp 1.750.000,-.
Beberapa alasan yang diperoleh dari responden menyatakan bahwa pembangunan jalan tol memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya antara lain:
  • Memberikan peluang kerja dan usaha baru
  • Terdapat kerjasama usaha bagi 6 jenis pengusaha lokal dengan kontraktor nasional, terutama dalam wujud suplai material tanah, rental mobil operasional, rental dump truk, suplai BBM, jasa survey serta jasa catering.
  • Meningkatkan penghasilan bagi masyarakat sekitar lokasi proyek. Penghasilan diperoleh dari hasil penerimaan uang ganti rugi tanah, membuka usaha warung makanan, jasa laundry, homestay/kontrakan rumah.

Hasil wawancara langsung dengan responden secara acak diperoleh informasi sebagai berikut :
  • Pendapatan berupa upah kerja operator, tukang, security,dan sejenisnya.
  • Penghasilan berdagang makanan dan jasa laundry pakaian.
  • Penghasilan dari homestay dan atau rumah kontrakan untuk kantor proyek, kantor konsultan dan mess karyawan proyek.

Tansportasi merupakan salah satu pendukung kegiatan ekonomi. Pada awal kegiatan konstruksi jalan tol ini persepsi masyarakat terhadap akses jalan ke desa masih baik, 55% responden menyatakan bahwa jalan akses ke desa dan antar kota lancar. Ada 10% responden yang menyatakan jalan desa kurang lancar. Hal ini disebabkan karena saat ini sedang ada perbaikan jalan dan jembatan oleh PT Waskita Karya karena akan digunakan untuk akses proyek. Jalan akses ke lokasi proyek yang telah disepakati dengan pemerintah desa adalah di jalan Laut menuju ke ROW.

Terkait dengan kegiatan pembangunan mengganggu sarana sosial dan ekonomi di desa, persepsi responden sebanyak 55% menyatakan tidak mengganggu sarana sosial ekonomi dan dan 45 % menyatakan membantu sarana sosial ekonomi di desa. Bentuk bantuan yang diterima adalah adanya perbaikan jalan dan jembatan yang dapat digunakan untuk memperlancar jalan usaha tani dari kebun.

Sedangkan untuk dampak pembangunan terhadap peningkatan ekonomi 75% responden menyatakan memberikan manfaat. Diduga manfaat persepsi ini timbul bukan saja karena merasakan manfaat secara langsung dengan adanya pembangunan jalan tol, tetapi juga pemahaman konsep pembangunan yang ada di sektiar masyarakat akan memberikan dampak ekonomi. Pemahaman ini dapat juga berarti persepsi atau harapan masyarakat yang. Terdapat 10% menyatakan pembangunan tol tidak memberikan manfaat ekonomi. Persepsi ini disebabkan responden tidak merasakan langsung manfaat ekonomi, karena lokasi usaha agak jauh dari lokasi pembangunan.

Besarnya perubahan peningkatan pendapatan yang dirasakan responden adalah berkisar 1 – 10% sebanyak 60%. Sedangkan yang menyatakan pembangunan jalan tol tidak memberikan pengaruh pada pendapatan sebanyak 35%. Kegiatan pembangunan jalan tol baru berjalan hampir 3 bulan sehingga aktivitas yang dikerjakan belum optimal. Saat ini masih banyak pada pembangunan kantor dan sarana penunjang lainnya. Pada lokasi jalan tol masih pembersihan lahan, penggalian dan sebagian penimbunan.



2.    Gangguan kebisingan dan Kenyamanan

Dampak Sosaial Tol Tembanggi Mesuji paket 2
Kegiatan Proyek dekat dengan pemukiman dapat mengganggu kenyamanan.

Bising suara dikeluhkan beberapa warga di Desa sekitar, sumber utama gangguan kebisingan bukan saja dari operasi alat berat dan mesin diesel pabrik beton yang mulai beroperasi, tetapi juga disebabkan semakin meningkatnya lalu lintas truk pengangkut tanah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden warga yang ada disekitar lokasi proyek memberikan respon atas gangguan kebisingan. Akan tetapi respon masih positif karena belum terlalu tergaggu. Disamping itu yang sedang berlangsung masih jauh dari pemukiman dan bersifat sementara.

Sampai dengan saat ini persepsi masyarakat terhadapa kenyamanan sebesar 90% menyatakan cukup nyaman. Sehingga gagguan kebisingan, debu dan gangguan lalu lintas masih kecil belum terlalu mengganggu aktivitas penduduk di sekitar lokasi pembangunan.

3.    Gangguan Kesehatan

Persepsi masyarakat terhadap gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pembangunan jalan tol  sebanyak 20%, sedangkan 80% responden menyatakan pembangunan jalan tol tidak mengganggu kesehatan. Berdasarkan wawancara dengan kepala UPTD Puskesmas Bandar Agung Kecamatan Terusan Nunyai di daerah ini penyakit ISPA cukup tinggi, pada bulan Januari sebanyak 264 kasus, meningkat di bulan Februari 628 kasus dan pada bulan Maret 580 kasus. Hal ini diduba disebabkan oleh perubahan cuaca dan didukung oleh adanya operasional pabrik dan kendaraan besar baik pabrik mupun kedaraan umum yang melintas di wilayah ini.

Pada awal kegiatan konstruksi belum berdampak yang berarti. Belum ada keluhan dari para Pekerja dan dan masyarakat sekitar dari debu atau gangguan lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil pemantauan lingkungan, kandungan debu (TSP) masih sangat kecil. Aktifitas yang menimbulkan pencemaran udara lain di luar konstruksi adalah adanya pembakaran lahan tebu pada saat panen di wilayah pekebunan tebu PT Gunung Madu. Debu pembakaran dapat beterbangan sampai radius 10 km dari lokasi. Aktivitas ini dapat membahayakan pekerja pembangunan jalan tol yang tidak jauh dengan areal perkebunan tebu, serta dapat membahayakan pengguna jalan tol. Sebaiknya pola pemanenan dengan pembakaran dapat dikurangi atau pada areal yang tidak akan menggangu penduduk di pemukiman atau di areal pembangunan jalan tol.

Aktivitas di lokasi operasi dump truk melakukan up loading tanah di area proyek yang melintas jalan Desa sekitar jalan tol. Untuk pengendalian terhadap debu yang ditimbulkan dari ceceran tanah maka, Kecepatan yang digunakan sopir dump truk saat melintas di jalan dekat pemukiman jangan melebihi 20 km /jam. SEhingga tidak  menimbulkan sebaran partikel debu dalam jumlah banyak. Debu yang timbul dapat mengakibatkan resiko penyakit  batuk, sesak nafas  dan mengotori mata pengguna jalan serta mata pekerja proyek.

Upaya Penanganan dampak debu telah dilakukan dengan menyiram secara intensif dan pemakaian masker serta kacamata oleh pekerja konstruksi. Selain itu telah diberlakukan peraturan kecepatan laju truk angkutan tanah maksimal 20 Km/jam.

4.    Kebersihan lingkungan


Kebersihan lingkungan jalan masuk kantor proyek di Desa Sekitar proyek terganggu oleh kotoran ceceran tanah, saat hujan menyebabkan becek dan licin. Untuk menangani masalah kebersihan kontraktor melakukan pembersihan ceceran tanah serta memberikan peringatan kepada sopir truk agar mencuci ban sebelum masuk ke jalan umum.

Kendaraaan umum banyak yang melintasi di area crossing sering terganggu dengan adanya ceceran tanah. Ceceran ini mengakibatkan debu dan kotornya kendaraan. Ceceran debu terjadi disepanjang jalan yang dilalui. Sampai dengan saat ini cecera masih terkelola dengan baik, karena aktivitas tersebut belum tinggi. Respon masyarakat terhadap kebersihan 70% responden menyatakan bahwa kegiatan pembangunan jalan tol tidak mengganggu kebersihan.

Kontraktor telah melaksanakan tindakan pencegahan pencemaran sampah dengan menyediakan bak sampah dan petugas kebersihan. Menyediakan toilet dan kamar mandi serta persediaan air bersih dalam jumlah cukup. Fasilitas sanitasi sebagai sarana penunjang keperluan mandi-cuci-kakus (MCK) bagi karyawan proyek tersedia. Termasuk dilkuan control harian terhadap kebersihan  WC dan kamandi. Disamping itu juga disediakan sarana beribadah yaitu mushola.

5.    Kesehatan Ibu dan Bayi

Berdasarkan wawancara dengan kelompok ibu pemilik bayi, dapat diketahui bahwa beberapa ibu pemilik bayi merasa aktivitas konstruksi jalan tol  ini, belum mengganggu kesehatan bayi. Akan tetapi perlu diantisipasi untuk aktivitas selanjutnya yang akan semakin meningkat. Di samping pengelolaan gangguan oleh kontraktor, perlu disosialisasikan kepada para ibu yang memiliki balita agar menghindari lokasi yang memiliki gangguan.  Berdasarkan pernyataan responden yang diwawancarai sampai dengan bulan ini, April 2017 100% menyatakan bayi mereka sehat.

6.     Partisipasi Masyarakat

Dampak sosial tol Terbanggi Mesuji Paket 2
Masyarakat yang tergusur, mulai membongkar rumah menunggu pembayaran UGR.
Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan jalan tol di berupa kesediaan hadir dalam musyawarah pembebasan tanah, menyediakan tempat untuk peralatan proyek serta menjaga keamanan lokasi proyek.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap pekerja proyek, dinyatakan bahwa sebanyak 60% masyarakat ikut berpatisipasi dalam persiapan pembangunan jalan tol saat ini sisanya adalah karena tidak memiliki keterlibatan langsung. Besarnya partisipasi ini juga didukung atas harapa apabila pelaksanaan konstruksi jalan tol ini sudah berkalan, penduduk setempat akan memperoleh kesempatan kerja, memperoleh pendapatan tambahan dan mempunyai usaha baru.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Pelaksanaan pemantauan kualitas lingkungan telah sesuai dengan rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL).  Sebagaimana diketahui RPL merupakan dokumen rencana pemantauan yang wajib dilaksanakan oleh konsultan supervisi PT Eskapindo Matra Jo PT Yodya Karya atas persetujuan PT Jasa Marga Semarang Batang.

Dipandang perlu adanya penanganan dampak lingkungan secara fisik yaitu Mencegah pencemaran debu secara lebih inten, agar tidak menimbulkan efek penyakit bagi  pekerja di lapangan. Penduduk di tepi ROW dan bayi yang masih rentan penyakit. Saran konsultan adalah agar kontraktor melaksanakan penyiraman muka tanah minimal 2 kali sehari setiap hari pada saat kendaraan beroperasi dalam periode musim kemarau.

Perlu adanya sosialisasi kepada penduduk sekitar lokasi batching plant dan tepi ROW  bila kontraktor mengoperasikan alat berat dan truk angkutan material pada malam hari, untuk menghindari complain ganguan kebisingan. 

Berdasar pemantauan lingkungan hingga periode ketiga terdapat gangguan lingkungan dengan kecenderungan yang semakin menurun. Menunjukkan pengelolaan lingkungan telah dilakukan dengan baik. Kecenderungan ini perlu dipantau pada semester berikutnya, agar diketahui kecenderungan perubahan dan kinerja serta masih ada atau tidaknya dampak yang timbul pada periode berikutnya, maka perlu dilakukan survey pemantauan lanjutan pada semester 2, sehingga diperoleh kecendurangan kinerja, kekritisan dampak serta guna melihat tingkat kepatuhan pelaksana proyek dalam memenuhi arahan pengelolaan dampak lingkungan sebagaimana yang telah ditanda tangani oleh penanggung jawab proyek.



(Anton Sutrisno , Enviromental Specialist.)


0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda

Blog Archive

Blogger Bengkulu

Warung Blogger

Posts Terbaru

Popular Posts

Follow by Email

Silahkan diikuti