Jumat, 28 September 2007

00.14.00 No comments
Oleh : Anton Sutrisno


Gempa bumi 7,9 skala Richter menyisakan tidak saja kerusakan fisik, tetapi psikis. Trauma dampak pasca gempa masih menggelayuti wajah masyarakat Bengkulu. Di sektor pertanian secara umum, kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa sangat besar. Kerusakan saluran irigasi hampir di semua daerah di provinsi ini. Pelaksanaan pemulihannya memakan waktu yang masih sangat panjang. Dalam skala prioritas penaggulaan bencana, pemulihan ini terletak pada urutan kesekian, karena tidak berdampak langsung kepada masyarakat jika dibandingkan dengan sarana pemukiman, air bersih dan sarana umum lainnya.
Dalam jangka panjang ketersediaan pangan khususnya beras tetap mutlak dipikirkan. Tidak mungkin kita hanya mengandalkan ketersediaan cadangan beras Bulog atau bantuan dari pihak lain. Penyediaan pangan ini juga merupakan wujud kemandirian suatu bangsa. Paling tidak jika para petani tetap dapat panen sebagaimana biasanya, proses pemulihan psikis akan lebih cepat terlaksana.

Pikiran dalam tulisan ini, paling tidak masih memberikan semangat kepada kita untuk tetap mempertahankan target kontribusi pencapaian program 2 juta ton beras nasional. Meskipun kondisi sarana yang ada sangat tidak memadai. Setidaknya untuk memberikan jawaban dari pertanyaan seorang petani, “Bagaimana dengan benih padi yang telah dibagikan beberapa waktu lalu yang rencana akan ditanam pada musim tanam bulan Oktober yang akan datang?”. Ditanam? Atau tidak? Atau diganti dengan komoditas lain yang tidak membutuhkan  air, seperti jagung atau kedelai? Lalu benih padinya dikemanakan? Siapa yang akan menyediakan benih jagung dan kedelai dalam jumlah yang sangat besar?
Bisa jadi, gagasan yang akan diberikan ini kurang tepat karena secara iklim kita tidak sesuai atau belum ada yang pernah melakukannya. Tetapi gagasan ini mencoba untuk mencari solusi terhadap dampak gempa di sektor pertanian khususnya padi sawah. Sementara untuk menunggu perbaikan sarana irigasi masih membutuhkan waktu dan dana yang besar. Tentunya pemerintah tidak akan membangun seluruh yang rusak sekaligus, bertahap sesuai dengan skala prioritas yang telah ditentukan. Ketersediaan pangan tetap menjadi menjadi prioritas yang tidak dapat dilakukan secara bertahap dan tidak dapat ditawar lagi. Semua harus tetap berjalan!.
Mengapa tidak kita coba sistim Gora (gogo rancah) untuk musim tanam kali ini, sambil menunggu perbaikan sarana irigasi. Yang penting, benih yang telah dibagi tidak menjadi kedaluwarsa atau ditumbuk petani karena tidak ada beras!.
Memang bercocok tanam padi dengan cara gora cocok di lahan pertanian yang gersang dengan musim hujan yang pendek. Seperti di NTB yang terkenal dengan bumi gora. Teknologi ini kita coba tiru untuk mengatasi kekeringan sementara yang terjadi pada areal persawahan kita.
Sistim gora ini dicetuskan pertama kali pada tahun 1963 oleh Bapak Hasmosuewignyo yang menjabat sebagai Kepala Jawatan Pertanian Pusat. Sistim gora diterapkan pada Operasi Tekad Makmur di Nusa Tenggara Barat. Hasil panen gora di Lombok Selatan paling rendah 6 ton/ha gabah kering panen. Sedangkan sebelum diterapkannya sistim gora ini, sawah tadah hujan hanya menghasilkan 0,9 – 1,5 ton/ha. Dari kenyataan ini menjadi bukti bahwa sawah tadah hujan dapat menghasilkan panen yang tidak kalah dengan persawahan irigasi biasa. Mungkinkan dilaksanakan pada lahan sawah yang kekeringan?
Besar kemungkinan, pada areal yang mengalami kerusakan tidak ada harapan lain kecuali curah hujan. Wilayah Bengkulu memiliki curah hujan yang cukup tinggi, yaitu rata-rata dalam 10 tahun terakhir mancapai 2.690 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan sebanyak 204 hari/tahun (Bengkulu dalam Angka-diolah). Dengan besarnya curah hujan ini setidaknya ada kemiripan karakteristik.
Pola usahatani yang diterapkan dapat dengan beberapa jenis tanaman sesuai dengan kondisi tanah dan air yang ada. Sehingga dapat ditaman sebagian palawija sebagian gora.
Pada bulan Oktober setelah Hari Raya Idul Fitri, apakah cuaca seperti pada bulan ini?. Ini yang perlu diantisipasi. Sebaiknya pengolahan tanah dilakukan sedini mungkin agar tanaman padi gora tumbuh di lahan bersamaan dengan tersedianya air hujan. Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan dibajak atau dicangkul kering. Setelah tanah digemburkan dibuat bedengan lebar berukuran 3 – 5 meter dengan panjang menurut petakan sawah, atau ukuran menyesuaikan petakan sawah. Selanjutnya dibuat parit-parit antara bedengan dengan ukuran lebar 20 – 30 cm dan dalam 10 – 20 cm. Parit-parit ini berfungsi sebagai saluran pembuang air pada waktu tanaman masih kecil, karena jika tanam padi usia ini tergenang air dapat mengakibatkan kematian atau pertumbuhan tidak normal.
Benih ditugal dengan jarak tanam 30 X 15 cm. Butir gabah sebelum dimasukkan ke lubang sebaikan dilakukan seed treatment (yaitu pencampuran dengan pestisida). Benih gabah yang dimasukkan ke dalam lubang tugal sebanyak 3 – 5 butir/lobang.
Penanaman padi gora banyak memerlukan pupuk organik dan anorganik. Jenis pupuk yang dipergunakan meliputi pupuk kandang 20 m3/ha dan SP36 100 kg/ha atau sesuai dengan rekomendasi pemupukan berimbang setempat. Pemberian pupuk kandang pada saat pengolahan tanah sedangkan SP36 sesudah tanam. Pemupukan dilakukan dengan cara ditempatkan pada alur antara barisan tanaman, kemudian ditutup dengan tanah. Pupuk lebih dekat dengan tanam dan tidak hilang karena gangguan dipermukaan tanah.
Penyiangan pertama dilakukan pada saat padi berumur 15 – 20 hari. Pada sistim gora penyiangan sangat penting. Waktu ini gulma tumbuh subur, jika terlambat menyiangi tanaman padi akan terganggu. Pada saat ini dilakukan pemupukan urea yang pertama, pemupukan urea selanjutnya pada saat padi berumur 60 hari dengan dosis 75 kg/ha atau sesuai rekomendasi setempat. Pada saat ini biasaya hujan sudah mulai turun dengan intensitas yang cukup tinggi. Tanah mulai becek. Jika air sudah cukup banyak, pematang segera diperbaiki, sehingga air dapat tergenang dan mempercepat pertumbuhan padi.
Pada waktu padi berumur 100 hari (sekitar bulan Januari) sawah dikeringkan dan selanjutnya ditunggu saat panen. Jadi pada sistim gora ini padi selama 30 – 40 hari mengalami kekeringan. Bahkan bila kebanyakan hujan, airnya harus dibuang. Bila air hujan sudah cukup, gora dapat dijadikan padi sawah biasa.
Gagasan ini tidak salahnya untuk dicoba, setidaknya dengan menghijaunya padi disawah dapat membuat hilangnya trauma gempa pada masyarakat kita. Dan usaha kita tetap memohon perlindungan Allah SWT agar tidak diterpa kemarau seperti tahun lalu, sehingga tidak menjadi musibah yang tiada henti. Amin...!

(Anton Sutrisno, THL TB Penyuluh Pertanian bertugas di Bengkulu Utara)


Arga Makmur,  28 September 2007

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda

Blog Archive

Blogger Bengkulu

Warung Blogger

Posts Terbaru

Popular Posts

Follow by Email

Silahkan diikuti