Keselamatan Kerja dalam Pembongkaran dan Pemasangan Crawler Crane

 

Foto di bawah ini menunjukkan proses pembongkaran atau pemasangan bagian boom (lengan) crawler crane menggunakan bantuan crane lain. Aktivitas ini termasuk pekerjaan berisiko tinggi karena melibatkan pengangkatan beban besar, pekerjaan di area terbatas, penggunaan alat berat, serta koordinasi banyak pekerja secara bersamaan. Kesalahan kecil dapat menyebabkan kecelakaan serius, kerusakan peralatan, bahkan korban jiwa.

Salah satu aktivitas pemasangan boom crawler crane di Proyek Jalan Tol Padang Sicincin


Pentingnya Keselamatan Kerja

Crawler crane merupakan alat angkat dengan kapasitas besar yang digunakan pada proyek konstruksi, pembangunan jembatan, pelabuhan, pabrik, hingga jalan tol. Saat proses pembongkaran (dismantling) maupun pemasangan (erection), kondisi crane belum stabil sepenuhnya sehingga risiko kecelakaan jauh lebih tinggi dibandingkan saat crane beroperasi normal.

Oleh karena itu, setiap tahapan pekerjaan harus dilakukan berdasarkan metode kerja (method statement), analisis risiko (JSA/JHA), serta diawasi oleh personel yang kompeten.

 

Bahaya yang Dapat Timbul

1. Beban Jatuh (Dropped Object)

Bahaya terbesar adalah jatuhnya boom, counterweight, wire rope, pin sambungan, atau komponen crane lainnya akibat:

  • Sling putus
  • Shackle rusak
  • Kesalahan rigging
  • Overload
  • Kegagalan alat bantu angkat

Dampak:

  • Fatality (kematian)
  • Cedera berat
  • Kerusakan alat dan fasilitas proyek

Pengendalian

  • Gunakan sling dan shackle yang tersertifikasi.
  • Periksa SWL (Safe Working Load).
  • Lakukan inspeksi sebelum digunakan.
  • Pasang exclusion zone atau area steril.
  • Larang pekerja berada di bawah beban gantung.

 

2. Boom Collapse (Runtuhnya Boom)

Boom dapat runtuh akibat:

  • Kesalahan urutan pembongkaran.
  • Pelepasan pin sebelum waktunya.
  • Ketidakstabilan crane.
  • Kegagalan struktur.

Pengendalian

  • Ikuti prosedur pabrikan.
  • Gunakan lifting plan yang telah disetujui.
  • Pastikan kapasitas crane pendukung mencukupi.
  • Pengawasan langsung oleh supervisor dan engineer.

 

3. Terjepit dan Tertimpa (Caught Between)

Saat penyambungan boom, pekerja sering berada dekat titik sambungan.

Risiko:

  • Jari terjepit pin.
  • Tubuh terhimpit boom.
  • Kaki tertimpa material.

Pengendalian

  • Gunakan tagline untuk mengarahkan beban.
  • Jangan memasukkan tangan pada titik pinch point.
  • Gunakan alat bantu alignment pin.
  • Gunakan sepatu safety dan sarung tangan.

 

4. Crane Terguling (Overturning)

Penyebab:

  • Tanah tidak stabil.
  • Kemiringan permukaan.
  • Kesalahan distribusi beban.
  • Cuaca buruk.

Pengendalian

  • Lakukan pemeriksaan daya dukung tanah.
  • Gunakan crane mat bila diperlukan.
  • Pastikan level crane sesuai standar.
  • Hentikan pekerjaan saat cuaca ekstrem.

 

5. Tersengat Listrik

Boom crane yang panjang berpotensi menyentuh jaringan listrik udara.

Pengendalian

  • Identifikasi seluruh jaringan listrik sekitar lokasi.
  • Terapkan jarak aman sesuai tegangan listrik.
  • Jika diperlukan lakukan pemadaman sementara.
  • Pasang rambu bahaya listrik.

 

6. Cuaca Buruk

Angin kencang sangat berbahaya karena boom memiliki luas permukaan yang besar.

Pengendalian

  • Monitor kecepatan angin menggunakan anemometer.
  • Hentikan pekerjaan jika melebihi batas yang ditentukan pabrikan.
  • Waspadai hujan deras dan petir.

 

7. Kegagalan Komunikasi

Kesalahan komunikasi antara operator crane dan rigger dapat menyebabkan salah gerakan.

Pengendalian

  • Tunjuk satu signalman resmi.
  • Gunakan radio komunikasi.
  • Terapkan standar hand signal.
  • Lakukan toolbox meeting sebelum pekerjaan.

 

Langkah Pengendalian Keselamatan

Sebelum Pekerjaan

1. Penyusunan Dokumen Keselamatan

Meliputi:

  • Job Safety Analysis (JSA)
  • HIRADC
  • Lift Plan
  • Method Statement
  • Permit to Work

2. Toolbox Meeting

Bahas:

  • Tahapan pekerjaan
  • Potensi bahaya
  • Tugas masing-masing personel
  • Rencana tanggap darurat

3. Inspeksi Peralatan

Periksa:

  • Wire rope
  • Hook
  • Sling
  • Shackle
  • Boom section
  • Hydraulic system
  • Safety device

 

APD yang Wajib Digunakan

Setiap pekerja harus menggunakan:

  • Helm keselamatan
  • Sepatu safety
  • Sarung tangan kerja
  • Rompi reflektif
  • Kacamata safety
  • Full body harness (jika bekerja di ketinggian)

 

Pengaturan Area Kerja

Area pembongkaran dan pemasangan harus:

  • Dipagari barrier.
  • Dilengkapi rambu keselamatan.
  • Bebas lalu lintas kendaraan umum.
  • Memiliki jalur evakuasi.
  • Memiliki titik kumpul darurat.

Pada foto terlihat pekerjaan dilakukan di area jalan kabupaten. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pengaturan lalu lintas  agar kendaraan tidak memasuki zona kerja crane, pada saat pelaksanan pekerjaan.

 

Personel yang Harus Terlibat

  1. Site Manager
  2. HSE Officer
  3. Crane Supervisor
  4. Operator Crane
  5. Rigger
  6. Signalman
  7. Mekanik Crane
  8. Tim Tanggap Darurat

Semua personel harus memiliki kompetensi dan sertifikasi sesuai tugasnya.

 

Aspek Keselamatan Lain yang Perlu Menjadi Perhatian

Housekeeping

  • Material tidak berserakan.
  • Selang dan kabel ditata rapi.
  • Jalur evakuasi tidak terhalang.

Kondisi Fisik Pekerja

  • Tidak bekerja dalam kondisi lelah.
  • Bebas alkohol dan narkoba.
  • Fit to work sebelum mulai pekerjaan.

Kesiapsiagaan Darurat

Harus tersedia:

  • Kotak P3K
  • Ambulans atau kendaraan evakuasi
  • Alat pemadam kebakaran
  • Nomor kontak darurat

Pengawasan Berkelanjutan

  • HSE melakukan monitoring selama pekerjaan berlangsung.
  • Pekerjaan dihentikan apabila ditemukan kondisi tidak aman (unsafe condition) atau tindakan tidak aman (unsafe act).

 

Kesimpulan

Pembongkaran dan pemasangan crawler crane merupakan pekerjaan berisiko tinggi yang memerlukan perencanaan matang, personel kompeten, peralatan yang layak, serta pengawasan keselamatan yang ketat. Bahaya utama yang harus diantisipasi meliputi beban jatuh, runtuhnya boom, pekerja terjepit, crane terguling, sengatan listrik, cuaca buruk, dan kegagalan komunikasi. Dengan penerapan prosedur kerja yang benar, penggunaan APD yang lengkap, inspeksi peralatan, pengendalian area kerja, serta disiplin terhadap standar K3, risiko kecelakaan dapat ditekan sehingga pekerjaan dapat terlaksana dengan aman, lancar, dan produktif.

Posting Komentar

0 Komentar