Oleh : Anton Sutrisno, SP. MSi
1. Pendahuluan:
Sisi Gelap Kilau Logam Mulia
Emas selalu menjadi simbol
kemakmuran dan penggerak roda ekonomi yang instan bagi masyarakat di berbagai
pelosok Indonesia. Di tengah keterbatasan lapangan kerja sektor formal,
Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) hadir sebagai urat nadi perekonomian yang
menjanjikan kesejahteraan cepat. Salah satu metode tradisional yang paling
populer dan masih bertahan hingga hari ini adalah penggunaan glundung—sebuah
tabung baja pemutar yang digerakkan oleh kincir air atau mesin diesel untuk
mengekstraksi emas dari batuan.
Secara mekanis dan ekonomi, metode
ini diakui sangat efisien bagi kalangan rakyat bermodal kecil. Dengan modal
beberapa ons merkuri (air raksa), pelor besi, dan aliran air, sebongkah batuan
keras dapat disulap menjadi butiran emas siap jual. Namun, di balik perputaran
uang yang menggiurkan dan kilau putih amalgam yang dihasilkan, terdapat harga
ekologis dan sosial yang sangat mahal yang harus dibayar oleh masyarakat
sekitar. Opini ini akan menguliti secara tajam bagaimana mekanisasi sederhana
ini menyimpan bom waktu ekologis, serta bagaimana kita harus bersikap dalam mengelola
dilema antara isi perut dan kelestarian alam.
2. Bedah
Mekanisme Glundung: Di Mana Letak Ancaman Lingkungannya?
Untuk memahami dampak buruknya,
kita harus membedah hulu dari proses ini. Berdasarkan deskripsi teknisnya,
metode glundung melibatkan tiga tahap kritis yang bersinggungan langsung dengan
alam: penghancuran (penumbukan), penggilingan amalgamasi di dalam tabung, dan
penyaringan ampas.
![]() |
| Operasional Mesin Glundung Tradisional di Lebong. Sumber: ANTARA News Bengkulu |
Ancaman lingkungan pertama muncul pada tahap penumbukan dan penggilingan. Batuan yang dihancurkan menghasilkan debu silika dalam jumlah masif. Ketika glundung berputar selama 24 jam penuh, getaran terus-menerus dan pembuangan limbah cair (tailing) cair langsung ke badan air terdekat menjadi pemandangan lumrah.
Ancaman terbesar dan paling
mematikan terletak pada penggunaan merkuri (Hg) atau air raksa. Dalam
proses glundung, merkuri dimasukkan langsung ke dalam tabung untuk
mengikat molekul emas menjadi amalgam. Sifat merkuri yang merupakan logam berat
cair beracun berpotensi besar terlepas ke lingkungan melalui dua jalur:
- Jalur Air: Melalui ampas hasil saringan kain yang sering kali dibuang langsung
ke sungai tanpa proses netralisasi.
- Jalur Udara: Ketika amalgam dibakar di ruang terbuka untuk memisahkan emas dari
merkuri, logam berat ini menguap dan masuk ke siklus udara.
3. Analisis
Dampak Lingkungan bagi Masyarakat Sekitar
A. Kontaminasi
Akuifer dan Krisis Air Bersih
Air adalah pelarut utama dalam
metode glundung. Sialnya, air yang digunakan biasanya diambil dari sungai dan
dialirkan kembali ke sungai yang sama setelah proses penyaringan. Limbah
saringan glundung yang mengandung sisa-sisa merkuri mikro dan lumpur
pekat akan langsung mencemari badan air.
![]() |
| Proses Pendulangan dan Pemisahan Material Kasar. Sumber: Taylor Weidman / LightRocket via Getty Images |
Masyarakat pedesaan yang masih bergantung pada sungai untuk mandi, mencuci, bahkan air minum, secara otomatis mengonsumsi air yang telah terpapar logam berat. Merkuri tidak dapat terurai secara alami; ia menetap di dasar sungai, mengendap di dalam sedimen, dan merusak ekosistem akuatik secara permanen.
B. Bioakumulasi
dan Ancaman Kesehatan Generasi Mendatang
Dampak merkuri tidak selalu
membunuh dalam hitungan hari, melainkan menumpuk secara perlahan melalui rantai
makanan (bioaccumulation). Sedimen sungai yang tercemar merkuri akan
diserap oleh plankton, yang kemudian dimakan oleh ikan kecil, lalu dimakan oleh
ikan besar, hingga akhirnya mendarat di piring makan masyarakat sekitar.
Ketika manusia mengonsumsi ikan
atau air yang tercemar metil-merkuri (bentuk organik merkuri yang sangat
beracun), dampaknya terhadap kesehatan sangat mengerikan. Gejala yang muncul
mirip dengan tragedi Minamata di Jepang:
- Kerusakan Sistem Saraf Pusat: Tremor, kehilangan
keseimbangan, dan mati rasa pada anggota gerak.
- Gangguan Kognitif pada Anak: Anak-anak yang lahir dari ibu
yang terpapar merkuri berisiko tinggi mengalami cacat mental,
keterlambatan perkembangan, dan autisme.
- Gagal Organ: Kerusakan kronis pada ginjal dan hati akibat akumulasi logam berat
yang tidak bisa dikeluarkan oleh tubuh.
C. Kerusakan
Fisik Bentang Alam dan Risiko Kebisingan
Selain dampak kimiawi, dampak fisik
dari operasional glundung tidak boleh diabaikan. Penggunaan kincir air
atau mesin diesel yang beroperasi nonstop selama 24 jam menciptakan polusi
suara yang mengganggu kenyamanan dan psikologis warga serta satwa liar.
Lebih dari itu, penambangan batu penambangan yang tidak terkendali di hulu atau
tebing sungai memicu erosi, pendangkalan sungai akibat sedimentasi lumpur tailing,
hingga potensi tanah longsor yang mengancam pemukiman warga itu sendiri.
4. Dilema
Sosio-Ekonomi: Mengapa Praktik Ini Sulit Dihentikan?
Sebagai pengamat, sangat mudah bagi
kita untuk meneriakkan jargon "Tutup Tambang Ilegal!" Namun, jika
kita menyelami realitas sosial di lapangan, masalahnya tidak sesederhana itu.
Bagi masyarakat sekitar, glundung adalah jaring pengaman ekonomi.
Menghasilkan 2 saga hingga 200 gram emas per hari berarti perputaran uang
ratusan juta rupiah mengalir langsung ke dapur-dapur warga, pasar lokal, dan
menopang pendidikan anak-anak mereka.
Melarang metode ini secara represif
tanpa memberikan solusi alternatif hanya akan menciptakan kemiskinan baru dan
konflik sosial antara masyarakat dengan aparat. Masyarakat umumnya mengetahui
bahwa merkuri itu berbahaya, namun desakan ekonomi jangka pendek sering kali mengalahkan
ketakutan akan dampak kesehatan jangka panjang yang abstrak bagi mereka. Oleh
karena itu, pendekatan hukum murni harus digantikan dengan pendekatan tata
kelola yang humanis namun tegas.
5. Saran
Pengelolaan dan Solusi Berkelanjutan
Untuk memutus rantai perusakan
lingkungan tanpa membunuh mata pencaharian masyarakat, diperlukan transformasi
radikal dalam tata kelola PESK di Indonesia. Berikut adalah beberapa langkah
solutif yang harus segera diambil:
1. Transformasi
Teknologi: Migrasi ke Metode Bebas Merkuri (Mercury-Free)
Pemerintah melalui Kementerian LHK
dan BRIN harus memfasilitasi alih teknologi dari metode amalgamasi merkuri ke
metode yang lebih aman, seperti Sianidasi Terbuka/Tertutup yang Terkontrol
atau penggunaan Boraks (Sistem Tiwi).
- Metode boraks terbukti jauh lebih murah, ramah lingkungan, dan mampu
menghasilkan kemurnian emas yang lebih tinggi dibandingkan merkuri.
- Penggunaan alat konsentrasi mekanis seperti shaking table atau centrifugal
concentrator dapat digunakan untuk memisahkan emas secara fisik
sebelum dilarutkan, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan kimia
berbahaya.
2. Pembangunan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal
Masyarakat tidak boleh lagi
diizinkan mengoperasikan glundung secara privat di halaman rumah yang
langsung membuang limbah ke selokan atau sungai. Operasional glundung
harus dipusatkan dalam satu kawasan industri rakyat yang dilengkapi dengan IPAL
Komunal.
- Tailing atau ampas hasil glundungan wajib ditampung dalam kolam
pengendapan (settling pond).
- Air limbah harus ditreatment menggunakan zat pengikat logam berat atau
melalui metode fitoremediasi (menggunakan tanaman penyerap logam) sebelum
dialirkan kembali ke alam.
3. Formalisasi
dan Pembentukan Koperasi Tambang Rakyat
Salah satu penyebab sulitnya pengawasan
adalah status tambang yang mayoritas ilegal (Peti). Pemerintah daerah harus
aktif mendorong formalisasi dengan menerbitkan Izin Pertambangan Rakyat
(IPR) melalui wadah Koperasi. Dengan adanya koperasi:
- Pasokan bahan baku dan alat bisa dikontrol.
- Edukasi keselamatan kerja (K3) dapat diterapkan secara kolektif.
- Pengawasan terhadap pelarangan peredaran merkuri ilegal di pasar gelap
dapat diperketat di tingkat lokal.
4. Edukasi
Kesehatan dan Pemantauan Medis Berkala
Dinas Kesehatan setempat harus
melakukan skrining kesehatan berkala terhadap penambang dan masyarakat
sekitar, khususnya pemeriksaan kadar merkuri dalam darah, rambut, dan urine.
Kampanye masif mengenai bahaya uap merkuri saat pembakaran harus digalakkan
agar kesadaran kolektif masyarakat tumbuh dari dalam, bukan karena paksaan
hukum semata.
6. Kesimpulan:
Memilih Masa Depan Hijau di Atas Kilau Semu
Metode glundung tradisional
seumpama pisau bermata dua. Di satu sisi, ia berhasil menjadi dewa penyelamat
ekonomi lokal yang mampu merubah batuan tak berharga menjadi pundi-pundi rupiah
dalam waktu 24 jam. Namun di sisi lain, ia bertindak sebagai pembunuh senyap (silent
killer) yang meracuni aliran darah alam dan manusia melalui cengkeraman
merkuri.
Kita tidak bisa terus menutup mata demi pertumbuhan ekonomi sesaat yang menumbalkan kesehatan generasi masa depan. Kesejahteraan sejati bukanlah tentang seberapa banyak gram emas yang bisa diperas hari ini, melainkan tentang bagaimana kita bisa mewariskan tanah yang subur, air yang bersih, dan anak cucu yang lahir tanpa cacat fisik maupun mental. Pengelolaan tambang rakyat yang ramah lingkungan bukan lagi sebuah pilihan pelengkap, melainkan sebuah urgensi mutlak yang harus dieksekusi sekarang juga. Bersama regulasi yang tegas, komitmen modal, dan alih teknologi, kita pasti bisa memurnikan emas tanpa harus mengotori pertiwi.


0 Komentar
Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda