Monday, November 5, 2007

10:25:00 AM No comments
oleh: Anton Sutrisno, SP

I.            PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Lahan rawa semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan swa sembada beras dan mencapai swasembada pangan lainnya. Mengingat semakin menciutnya lahan subur di Jawa akibat penggunaanya untuk perumahan dan keperluan non pertanian lainnya. Perubahan ini juga terjadi di Kabupaten Mukomuko dari lahan sawah atau rawa yang dapat dikeringkan menjadi lahan perkebunan. Potensi lahan rawa lebak untuk Kabupaten Mukomuko mencapai 10.218 ha atau sekitar 22,73% dari total lahan rawa lebak yang ada di Provinsi Bengkulu. Lahan yang sudah dimanfaatkan baru mencapai 3.573 ha dan yang belum dimanfaatkan seluas 6.645 ha.

Pengembangan dan optimalisasi pemanfaatan lahan lebak sebagai penyangga produksi tanaman pangan diawali dengan identifikasi karakteristik lahan lebak. Tujuan dari karekterisasi adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang karakteristik wilayah lebak yang mencakup karakteristik biofisik, sosial ekonomi budaya, serta kelembagaan dan infrastruktur pendukung, terutama yang berkaitan dengan pengembangan usahatani berbasis padi. Data dan informasi karateristik tersebut menjadi masukkan dalam menyusun rancangan model usahatani berbasi padi yang telah diujicobakan dalam bentuk demontrasi area.

Keberhasilan pelaksanaan demontrasi area diharapkan menjadi pemicu berkembangnya usaha padi di rawa lahan lebak, selanjutnya lahan lebak ini menjadi salah satu areal penyangga produksi tanaman pangan dalam rangka mengamankan ketahanan pangan nasional.


Kegiatan Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Lebak Melalui Sistim Penguatan Kelembagaan dan Infrastruktur Pendukung Dalam Rangka Menyangga Produksi Tanaman Pangan Pada Tahap I Tahun 2005 kegiatan yang dilaksanakan antara lain :
·         Sosialisasi.
·         Pelatihan aparat dan Petani agar mampu melaksanakan karakterisasi.
·         Pelaksanaan Karakterisasi.
·         Pelatihan Petani untuk Perancanagan Model Usahatani.
·         Penyusunan Model Usahatani Pengembangan Lahan Lebak.

Sedangkan kegiatan untuk Tahap II di Kabupaten Muko Muko untuk tahun 2006 yang akan dilaksanakan antara lain:
·         CPCL untuk Pelaksanaan Dem Area Model Pengembangan Lahan Rawa Lebak dengan berbasis Padi.
·         Pelaksanaan Model Pengembangan Lebak dalam Bentuk Dem Area.
·         Evaluasi Model Pengembangan Lebak
·         Penentuan Model Definitif Pengembangan Lebak Spesifik Lokasi
·         Perancangan Model Replikasi Model Pengembangan Lahan
·         Inisialisasi Kelembagaan Guidance and Counselling.

Pada tahap awal demontrasi area di Kabuapten Mukomuko telah dilakukan seluas150 hektar yang terdiri atas lokasi di Desa Sumber Makmur SP8 Kecamatan Lubuk Pinang seluas 50 hektar, Desa Tanjung Mulia SP9 Kecamatan Mukomuko Utara seluas 50 hektar dan Desa Air Hitam Kecamatan Pondok Suguh seluas 50 hektar. Pelaksanaan demontrasi ini melibatkan 10 kelompok tani dengan 210 petani.

Masalah utama yang timbul dalam pengembangan lahan lebak adalah kondisi air yang sangat fluktuatif, terkadang sulit diduga sehingga pada musim kemarau terjadi kekeringan dan pada saat musim hujan terjadi banjir. Oleh karena itu untuk pelaksanaan replikasi selanjutnya perlu adanya langkah operasional agar pengembangan dapat lebih efektif dan efisien.

Saran untuk dibaca:

B.   Tujuan Kegiatan

·      Melakukan replikasi model usahatani berbasis padi yang disusun berdasarkan hasil Dem Area sebelumnya dengan mempertimbangkan hasil karakterisisasi lahan biofisik maupun non biofisik serta sosial budaya setempat.
·    
     Menyusun dan mengembangkan model usahatani pada lahan lebak sehingga terwujudnya pedoman, kesatuan pandangan tentang sifat lahan lebak dan langkah-langkah pemanfaatannya serta pola teknis usaha dan teknologi budidaya yang lebih terarah efektif dan efisien.
·      
   Memberikan keyakinan kepada petani bahwa lahan rawa lebak dapat memberikan hasil yang memadai bila diusahakan dengan sistim usahatani yang tepat.
·         Sebagai sarana pelatihan dalam pemberdayaan dan peningkatan kemampuan petani untuk bias mengelola usahatani dilahan rawa lebak.
·         Replikasi Demontrasi area diharapkan akan menjadi pemicu dalam pengembangan usahatani berbasis padi di lahan rawa lebak, yang bias menjadi salah satu penyangga produksi tanaman pangan dalam mengamankan ketahanan pangan nasional.


II.           POTENSI LAHAN LEBAK

A.   Situasi Wilayah

1.   Letak Geografis

Kabupaten Mukomuko merupakan pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara sesuai dengan Undang-undang No. 3 tahun 2003 tanggal 23 Mei 2003, dengan ibu kota di Wilayah Mukomuko Kecamatan Mukomuko Utara. Jarak ibu kota kecamatan dengan ibu kota kabupaten adalah sebagai berikut:
·         Mukomuko Utara – Ipuh berjarak 100 km.
·         Mukomuko Utara – Pondok Suguh berjarak 63 km.
·         Mukomuko Utara – Teras Terunjam berjarak 40 km.
·         Mukomuko Utara – Lubuk Pinang berjarak 27 km.
Sedangkan jarak ibukota kabupaten dengan ibukota provinsi Bengkulu adalah 270 km.
Kabupaten Mukomuko berada pada ketinggian 0 – 259 meter dpl. yang terletak pada 2 LS – 4 LS dan pada 101 BT – 101 BT. Topografi sebagaian datar dan sebagian berbukit-bukit. Luas wilayah mencapai 4.036,7 km2. dengan batas-batas administratife sebagai berikut:
    • Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat.
    • Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Utara.
    • Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Kabupaten Lebong.
    • Sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia.


2.   Macam Penggunaan Lahan

Untuk lahan persawahan di Kabupaten Mukomuko seluas 11.335 ha yang terdiri dari sawah irigasi teknis 4.096 ha, sawah irigasi setengah teknis 800 ha, sawah irigasi sederhana 831 ha, sawah tadah hujan 1.985 ha, sawah pasang surut 50 ha dan sawah rawa lebak 3.573 ha. Penyebaran pemanfaatan lahan sawah menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1.  Luas Pemanfaatan Lahan Sawah Per Kecamatan Tahun 2004
No.
Kecamatan
Luas Lahan Sawah (ha)
Irigasi Teknis
Irigasi ½ teknis
Irigasi sederhana
Tadah hujan
Pasang Surut
Rawa Lebak
1.
Mukomuko Selatan
-
-
300
350
-
70
2.
Pondok Suguh
-
-
381
75
-
646
3.
Teras Terunjam
-
800
150
420
-
130
4.
Mukomuko Utara
1.550
-
-
1.037
50
724
5.
Lubuk Pinang
2.546
-
-
103
-
2.003

Jumlah
4.096
800
831
1.985
50
3.573

Berdasarkan tabel tersebut diatas, luas lahan sawah untuk masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut: Kecamatan Mukomuko Selatan seluas 720 ha, kecamatan Pondok Suguh seluas 1.102 ha, Kecamatan Teras Terunjam seluas 1.500 ha, Kecamatan Mukomuko Utara seluas 3.361 ha, dan Kecamatan Lubuk Pinang selaus 4.652 ha.

3.   Potensi Sumberdaya Alam

Potensi lahan yang dimiliki oleh Kabupaten Mukomuko adalah lahan basah yang berpengairan seluas 10.219 ha, lahan basah yang tidak berpengarian seluas 15.430 ha, serta lahan kering seluas 74.503,5 ha.
Kecamatan Mukomuko Selatan memiliki potensi lahan basah berpengairan seluas 588 ha, dari luas tersebut yang berfungsi seluas 300 ha dengan ditanami 2 kali setahun seluas 75 ha, satu kali tanam setahun seluas 225 ha, lahan belum dimanfaatkan karena kurangnya debit air irigasi seluas 864 ha. Potensi lahan kering seluas 12.946,5 ha.
Kecamatan Pondok Suguh memiliki potensi lahan basah berpengairan seluas 790 ha. Dari luas tersebut yang dimanfaatkan seluas 381 ha dengan ditanami 2 kali setahun seluas 102 ha, satu kali tanam seluas 279 ha dan belum dimanfaatkan seluas 409 ha disebabkan kurangnya debit air irigasi. Potansi lahan kering seluas 11.963 ha.
Kecamatan Teras terunjam memiliki potensi lahan basah berpengairan seluas 1.238 ha, dari luas tersebut yang telah dimanfaakan seluas 950 ha, dengan ditanami 2 kali setahun seluas 720 ha, ditanami 1 kali setahun seluas 230 ha, sedangkan yang belum dimanfaatkan seluas 288 yang disebabkan oleh rusaknya jaringan irigasi tersier.
Kecamatan Mukomuko Utara memiliki potensi lahan basah berpengairan seluas 3.777 ha, dari luas tersebut yang dimanfaatkan seluas 1.550 ha dengan ditanamai 2 kali setahun seluas 630 ha, ditanami sekali setahun seluas 920 ha, sedangkan yang belum dimanfaatkan seluas 2.227 ha. Secara umum lahan ini adalah lahan gambut. Potensi lahan kering seluas 7.852 ha.
Kecamatan Lubuk Pinang memiliki potensi lahan basah berpengairan seluas 3.826 ha. Dari luas lahan tersebut yang dapat dimanfaatkan seluas 2.546 ha dengan ditanami 2 kali setahun seluas 1.300 ha. Ditanamai sekali setahun seluas 1.246 ha. Lahan yang belum dimanfaatkan seluas 1.280 ha dengan permasalahan secara umum adalah jaringan irigasi yang rusak dan lahan gambut. Potensi lahan kering seluas 19.678 ha.

4.   Iklim

Kabupaten Mukomuko termasuk dalam iklim tropis lembab, dengan curah hujan berkisar 3.000 sampai 4.500 mm per tahun. Rata-rata curah hujan per bulan sebesar 149,5 mm per bulan dan rata-rata hari hujan dalam satu bulan sebanyak 19,1 hari. Jika dikatagorikan menurut Schmidt dan Feguson termasuk dalam iklim tipe A dengan nilai kurang dari 14%.

5.   Penduduk

Penduduk Kabupaten Mukomuko berdasarkan hasil Pendaftaran dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B) tahun 2004 sebanyak 133.527 jiwa dengan kepadatan penduduk 33 jiwa/km2. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Mukomuko Utara yaitu 69 jiwa/km2, kemudian diikuti dengan Kecamatan Lubuk Pinang yaitu 63 jiwa/km2.

Tabel 2.  Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Mukomuko Tahun 2004
No
Kecamatan
Luas Wilayah (km2)
Jumlah Penduduk (jiwa)
Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)
1.
Mukomuko Selatan
1.455,70
28.480
19,56
2.
Pondok Suguh
1.017,00
22.521
22,14
3.
Teras Terunjam
780,00
30.427
39,01
4.
Mukomuko Utara
395,00
27.542
69,73
5.
Lubuk Pinang
389,00
24.557
63,13

Jumlah
4.036,70
133.527
33,08
Sumber : Mukomuko Dalam Angka 2004


Jumlah Penduduk usia 15 – 60 tahun di Kabupaten Mukomuko Tahun 2004 mencapai  83.077 orang yang terdiri dari 43.444 orang laki-laki dan 39.633 orang perempuan. Rasio beban usia produktif diperoleh 0,6 yang berarti bahwa setiap 10 orang usia peroduktif menanggung 6 orang usia yang tidak produktif.
Jumlah Penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Sex rasio diperoleh sebesar 109,73 dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 69.860 jiwa dan perempuan 63.667 jiwa.

Tabel 3.  Jumlah Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Mukomuko Tahun 2004
No
Kecamatan
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1.
Mukomuko Selatan
14.997
13.483
28.480
2.
Pondok Suguh
11.664
10.857
22.521
3.
Teras Terunjam
16.066
14.361                
30.427
4.
Mukomuko Utara
14.332
13.210
27.542
5.
Lubuk Pinang
12.801
11.756
24.557

Jumlah
69.860
63.667
133.527
Sumber : Mukomuko Dalam Angka 2004

Jumlah Kepala Keluarga yang terdapat di Kabupaten Mukomuko sebanyak 34.366 KK dengan jumlah anggota keluarga rata-rata sebesar 4,45 anggota keluarga. Rata-rata anggota keluarga terbesar terdapat di Kecamatan Mukomuko Utara sebanyak 4,61 sedangkan terkecil terdapat di Kecamatan sebanyak 4,17. Mayoritas profesi kepala keluarga di Kabupaten Mukomuko adalah petani (92%) dengan jumlah KK Petani sebanyak 31.493 KK.

Tabel 4. Jumlah KK dan jumlah KK Petani menurut Kecamatan di Kabupaten Mukomuko tahun 2004
No
Kecamatan
Jumlah KK
Jumlah KK Tani
1.
Mukomuko Selatan
7.624
6.610
2.
Pondok Suguh
5.850
4.883
3.
Teras Terunjam
7.897
7.716
4.
Mukomuko Utara
6.977
6.393
5.
Lubuk Pinang
6.018
5.891

Jumlah
34.366
31.493

Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Mukomuko adalah 32,99 jiwa/km2. Dari 5 kecamatan tingkat kepadatan penduduk tertinggi adalah pada kecamatan Mukomuko Utara yang mencapai 68,65 jiwa/km2.

Tabel 5. Tingkat Kepadatan Penduduk Kabuapten Mukomuko Tahun 2003
No
Kecamatan
Luas Wilayah (Km2)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)
1.
Mukomuko Selatan
1.456
28.418
19,98
2.
Pondok Suguh
1.017
22.036
21,89
3.
Teras Terunjam
780
28.911
39,20
4.
Mukomuko Utara
395
26.337
68,65
5.
Lubuk Pinang
389
24.028
62,02

Jumlah
4.037
129.730
32,99
Sumber : Mukomuko Dalam Angka Tahun 2004

6.   Kelembagaan Penunjang Kegiatan Pertanian

Dalam mendukung kegiatan usaha tani masyarakat di Kabupaten Mukomuko telah tersesdia lembaga keuangan yang siap memberikan kredit kepada para petani. Dari keseluruhan terdapat 5 lembaga keuangan bank dan 23 lembaga keuangan bukan bank, yaitu lembaga keuangan milik desa yang didirikan berdasarkan Program Bengkulu Regional Development Project (BRDP) dimana kredit yang disalurkan merupakan sarana untuk mempercepat kegiatan adopsi teknologi pertanian.
Tabel 6. Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank di Kabupaten Mukomuko pada tahun 2004
No.
Kecamatan
BRI Unit
Cabang Bank Bengkulu
UPKD BRDP
(LK Non Bank)
1.
Mukomuko Selatan
1
1
6
2.
Pondok Suguh
-
-
5
3.
Teras Terunjam
1
-
2
4.
Mukomuko Utara
1
1
4
5
Lubuk Pinang
1
1
6

Jumlah
4
3
23

Lembaga Keuangan ini memiliki peran yang sangat strategis terutama sekali dalam mengatasi permodalan pertanian. Tidak saja bagi kepentingan petani, tetapi juga untuk berjalannya suatu program yang sering tidak tepat waktu, dalam pengadaan saprodi, maka dengan adanya lembaga keuangan melalui kelompok tani saprodi yang dibutuhkan pengadaannya dapat ditanggulangi terlebih dahulu.
Meskipun banyak yang tidak berjalan sebagaimana tujuannya yang mulia dalam rangka memanjukan anggota, KUD tetap telah berjasa memberikan perubahan yang cukup berarti dalam membantu meningkatkan kesejahteraan para petani. Tidak berjalannya KUD ini sering disebabnya adanya krisis kepercayaan antara pengurus dan anggotanya. Secara rinci jumlah KUD yang ada di Kabupaten Mukomuko dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 7.  Jumlah KUD di Masing-masing Kecamatan di Kabupaten Mukomuko tahun 2004.
No.
Kecamatan
Jumlah KUD
1.
Mukomuko Selatan
6
2.
Pondok Suguh
2
3.
Teras Terunjam
3
4.
Mukomuko Utara
1
5
Lubuk Pinang
7

Jumlah
19
                   Sumber :  Profil Pertanian Kabupaten Mukomuko Tahun 2004

Penyuluh pertanian dalam pelaksanaan demontrasi area memailiki peran yang sangat sentral dan strategis dalam menyampaikan informasi dan melaksanakan program di tingkat areal atau wilayah desa. Penyebaran informasi yang dilakukan penyuluh dengan interaksi yang sangat intens kepada kelompok tani, atau kontak tani memberikan dampak yang positif bagi petani dalam  penerimaan teknologi baru yang akan diterapkan atau dikampanyekan dalam demontrasi area.

Tabel 8.  BPP dan Tenaga Penyuluh di Kabupaten Mukomuko tahun 2004.
No.
Kecamatan
Nama BPP
Jumlah Penyuluh
1.
Mukomuko Selatan
BPP Medan Jaya
15
2.
Pondok Suguh
BPP Pondok Suguh
6
3.
Teras Terunjam
BPP Teras Terunjam
6
4.
Mukomuko Utara
BPP Ujun Padang
7
5
Lubuk Pinang
BPP Sido Mulya
11

Jumlah

45
Sumber : Profil Pertanian Kabupaten Mukomuko Tahun 2004.

Kelompok tani merupakan wadah terdepan dalam melaksanakan pembangunan pertanian. Tercatat sebanyak 480 kelompok tani yang ada di Kabupaten Mukomuko untuk tahun 2004 dengan jumlah anggota kelompok mencapai 12.382 orang, rata-rata mereka baru pada kelas pemula dan lanjut. Dari kesemua kelompok tani yang aktif dan telah memperoleh pengukuhan baru 60 kelompok tani.
Tabel 9.  Jumlah Kelompok Tani dan Anggota di Kabupaten Mukomuko tahun 2004.
No.
Kecamatan
Jumlah Kelompok Tani
Jumlah Anggota
1.
Mukomuko Selatan
113
3.025
2.
Pondok Suguh
69
2.377
3.
Teras Terunjam
-
-
4.
Mukomuko Utara
133
3.317
5
Lubuk Pinang
125
3.662

Jumlah
480
12.382

Sarana penunjang yang sangat vital lainnya adalah kios saprodi. Kios saprodi berfungsi untuk mendekatkan penyedia sarana dan prasarana produksi pertanian dengan petani. Kios yang disajikan berikut ini merupkan kios yang tercatat sebagai pengecer saprodi resmi. Sementara itu masih banyak kios-kios kecil yang ada di desa yang melakukan penjualan dalam jumlah yang terbatas.

Tabel 10.  Jumlah Kios Saprodi Pertanian di Kabupaten Mukomuko tahun 2004.
No.
Kecamatan
Jumlah Kios
1.
Mukomuko Selatan
2
2.
Pondok Suguh
1
3.
Teras Terunjam
5
4.
Mukomuko Utara
12
5
Lubuk Pinang
11

Jumlah
31
Sumber :  Profil Pertanian Kabupaten Mukomuko Tahun 2004

B.   Perekonomian

Pertumbuhan ekonomi regional di Kabupaten Mukomuko pada tahun 2004 menurut Laporan BPS 4,6% yang mengacu pada PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000. Sektor yang menjadi andalan adalah pertanian dengan pertumbuhan 4,66% yang disebabkan karena adanya pertumbuhnan dalam sub sector pertanian yang sangat pesat seperti dari sektor Tanaman Perkebunan. Sedangkan untuk pertumbuhan sektor lainnya adalah sebagai berikut: pertambangan mengalami kenaikan 3,5%, industri pengolahan mengalami kenaikan 2,8%, sektor listrik, gas dan air minum mengalami kenikn 2,12%, sektor bangunan 6,42%, perdagangan 4,05%, sektor transportasi sebesar 7,31%, sektor perbankan sebesar 4,68% dan sektor jasa-jasa sebesar 6,67%.
Berdasarkan PDRB tahun 2004 atas dasar harga berlaku, sektor pertanian masih menjadi tumpuan perekonomian di Kabupaten Mukomuko sebesr 51,84% terhadap total PDRB. Sektor kedua yang cukup besar adalah pedagangan, hotel dan restoran dengan kontribuasi sebesar 18,69%. Kontribusi sektor-sektor lain adalah pengangkutan dan komunikasi sebesar 3,9%, sector jasa-jasa sebesar 6,19%, sektor jasa-jasa ini termasuk juga jasa pemerintah. Sektor banguan mencapai 2,65%, sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan sebesar 3,54%, sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 6,28% sektor pertambangan dan penggalian sebesar 6,63% dan sektor dengan kontribusi terkecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0,20%.


III.         POTENSI LAHAN LEBAK

 

A.   Potensi dan Penyebaran Lahan Lebak

Kabupaten Mukomuko memiliki potensi lahan rawa lebak yang cukup besar. Berdasarkan data Profil Pertanian Kabupaten Mukomuko Tahun 2004 diperoleh potensi lahan rawa lebak seluas 10.218 ha yang tersebar di semua kecamatan yang ada. Luas potensi lahan terbesar terdapat di Kecamatan Lubuk Pinang yaitu 4.047 ha, sedangkan potensi terkecil terdapat di Kecamatan Teras Terunjam sebesar 3.457 ha. Di Kecamatan Mukomuko Utara juga memiliki potensi lahan Pasang Surut seluas 375 ha.

Tabel 11.  Luas Potensi Lahan Sawah Per Kecamatan Tahun 2004
No.
Kecamatan
Luas Lahan Potensial  (ha)
Irigasi Teknis
Irigasi ½ teknis
Irigasi sederhana
Tadah hujan
Pasang Surut
Rawa Lebak
1.
Mukomuko Selatan
-
-
588
803
-
1.176
2.
Pondok Suguh
-
-
790
150
-
1.338
3.
Teras Terunjam
-
846
392
1.123
-
200
4.
Mukomuko Utara
3.777
-
-
2.501
375
3.457
5.
Lubuk Pinang
3.826
-
-
260
-
4.047

Jumlah
7.603
846
1770
4.837
375
10.218
Sumber : Profil Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Mukomuko Tahun 2004.

B.   Penggunaan Lahan Lebak

Lahan lebak yang sudah dimanfaatkan secara umum ditanami padi, sedangkan untuk lahan lebak yang drainasenya sudah bagus kebanyakan sudah ditanami jagung dan palawija. Untuk berapa luasan tanam dan jenis pemanfatan belum ada data.


IV.        RENCANA PENGEMBANGAN LAHAN LEBAK


 

A.   Sasaran Pengembangan Lahan Lebak

Berdasarkan data dari Profil Pertanian Kabupaten Mukomuko Tahun 2004 diperoleh potensi lahan lebak seluas 10.218 ha, dengan luas lahan yang telah dimanfaatkan baru 3.573 ha. Pemanfaatan ini baru mencapai sekitar 35% dari potensi yang dimiliki. Lahan yang masih banyak belum di manfaatkan terdapat di Kecamatan Mukomuko selatan, baru mencapai 6% dari potensi lahan seluas 1.176 ha. Pemanfaatan terbesar di Kecamatan Lubuk Pinang (49%) meskipun belum maksimal.
Tabel 12.  Potensi Lahan Lebak dan Lahan lebak yang di Manfaatkan Tahun 2004
No.
Kecamatan
Lahan Rawa Lebak  (ha)
Potensi
Dimanfaatkan
1.
Mukomuko Selatan
1.176
70
2.
Pondok Suguh
1.338
646
3.
Teras Terunjam
200
130
4.
Mukomuko Utara
3.457
724
5.
Lubuk Pinang
4.047
2.003

Jumlah
10.218
3.573
       Sumber :  Profil Pertanian Kabupaten Mukomuko 2004.   

Pada pelaksaan Demontrasi Area sasaran baru pada 3 kecamatan yaitu, Lubuk Pinang, Mukomuko Utara dan Pondok Suguh dengan luasan 150 ha. Pada Replikasi dari Demontrasi Area tersebut diharapkan dapat dilaksanakan di semua kecamatan yang berpotensi lahan rawa lebak.
Rencana replikasi demontrasi area selama 5 tahun (2007 – 2011) direncanakan dapat mengoptimalkan lebih dari 50% potensi lahan gambut yang dimiliki di Kabupaten Mukomuko. Sebagaimana pelaksanaan demontrasi area persyaratan lahan pada replikasi tahun 2007 juga hampir sama, yaitu lebih diutamakan kepada lahan rawa lebak yang telah sering diusahakan atau diolah. Untuk lahan yang jarang atau belum pernah diolah menjadi sasaran pada tahun berikutnya. Bersamaan dengan itu, petani juga dapat membuka lahan potensial rawa lebak yang masih tertutup belukar agar dapat diusahakan dan menjadi sasasaran kegiatan replikasi optimalisasi lahan lebak pada tahun berikutnya.

Tabel 13.  Rencana Luas Pengembangan Lahan Lebak Per Kecamatan Tahun 2007 – 2011.
No
Kecamatan
Pengembangan
Jumlah
2007
2008
2009
2010
2011
1
Mukomuko Selatan
50
50
75
50
75
 300
2
Pondok Suguh
50
50
75
100
75
 350
3
Teras Terunjam
50
50
0
0
0
 100
4
Mukomuko Utara
150
150
150
150
150
 750
5
Lubuk Pinang
200
200
200
200
200
 1.000

Jumlah
 500
 500
 500
 500
 500
 2.500

Rencana pengembangan Replikasi Dem area di Kabupaten Mukomuko, secara keseluruhan pengembangan lahan mencapai 24% dari potensi lahan lebak yang ada. Pengembangan lahan rawa lebak di Kecamatan Lubuk Pinang mencapai 26%, Mukomuko Utara 26%, Teras Terunjam 50%, Pondok Suguh 22%, dan Mukomuko Selatan mencapai 25% dari total potensi lahan lebak masing-masing kecamatan. Diperkirakan pemanfaatan lahan lebak pada tahun 2011 paling tidak dapat mencapai 6.073 ha yaitu dari luasan replikasi dan luasan yang telah dimanfaatkan saat ini.
Mengingat keterbatasan anggaran dan sumber daya yang ada, maka perlu disusun suatu pola pengembangan lahan yang efektif dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Dari target pengembangan tersebut diatas, maka disusun lagi rencana luasan lahan yang akan dikembangkan dengan dibiayai melalui kegiatan replikasi lahan lebak yang berbasis padi. Pengembangan ini diharapkan menjadi lebih besar dari perencanaan di atas apabila dapat dikembangkan pola pengembangan keswadayaan masyarakat, replikasi demontrasi area dilakukan secara mandiri oleh kelompok tani atau petani pada daerah yang tidak menjadi sasaran replikasi.
Pola partisipasi ini tidak saja dalam kegiatan usaha tani saja tetapi dapat juga pada pembangunan sarana dan prasarana pendukung usaha tani seperti pembangunan jalan usahatani, saluran irigasi di lahan, pembuatan atau perbaikan saluran pembuangan dan lain sebagainya. Pola partisipasi ini telah pernah di lakukan di beberapa desa di kabupaten muko-muko yang kebanyakan saat ini baru pembangunan jalan desa.

B.   Model Usahatani Lahan Lebak

Perbaikan pola tanam pada lahan lebak yang selama ini hanya dilakukanan tanam satu kali satu tahun, melalui replikasi demontrasi area ada peningkatan IP. Pada lahan lebak selama melakukan pola tanam padi- bera-bera, diharapkan dengan adanya replikasi para petani telah mengikuti pola tanam padi-padi-bera atau padi-padi-palawija. Dengan dermikian pada saat replikasi demontrasi Area IP menadi 200 – 300%.
Tabel 14.  Pola Tanam berdasarkan hasil karakterisasi Sosial Budaya tahun 2005

No.
Uraian
Pola Tanam
1.
Penataan lahan
Sawah
2.
Pola Tanam
Padi – Padi – Palawija/Jagung/Bera
3.
Waktu Tanam
Marengan : April
Rendengan : Oktober

Untuk tanam padi di lahan lebak, hal yang sangat penting adalah dalam pemilihan varietas. Varietas harus dipilih yang sesuai dengan kondisi lahan dan preferansi atau kesukaan di suatu daerah, yang menyangkut tekstur nasi, bentuk gabah dan keputihan beras. Disaming itu perlu diperhatikan adalah umur tanaman, penggunaan padi umur pendek akan lebih memberikan tingkat keberhasilan disbanding dengan tanaman padi yang berumur panjang.
Penggunaan varietas benih unggul yang direkomendasikan berdasarkan dari hasil karakterisasi dan demontrasi area adalah sebagai berikut:
Tabel 15.  Varietas Unggul yang direkomendasikan untuk ditanam di lahan lebak.
Nama Varietas
Umur Panen (Hari)
Hasil (Ton/Ha)
Keunggulan Lainnya
Fatmawati
105 – 115
6 – 9
Tekstur nasi pulen, agak tahan terhadap wereng coklat, tahan terhadap bakteri hawar daun. Dapat ditanam pada musim kemarau.
Ciherang
116 – 125
5 – 7
Tektur nasi pulen, tahan terhadap wereng coklat, tahan terhadap hawar daun bakteri, dapat ditanam pada musim kemarau.
Digul
115 – 125
5 – 7
Tekstur nasi pera, tahan terhadap wereng coklat, agak tahan terhadap hawar daun bakteri, dapat ditanam pada musim kemarau.
Progo
125
4,5 – 5
Tektur nasi pera, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 2, agak tahan terhadap hawar daun bakteri, sesuai ditanam di awal musim kemarau.
Cisokan
110 – 120
4,5 – 5
Tekstur nasi pera, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2 dan 3, agak tahan terhadap hawar daun bakteri, sesuai ditanam di awal musim kemarau.
IR – 36
110 – 120
4 – 4,5
Tektur nasi pera, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 2 agak peka serangan hawar daun bakteri, agak tahan terhadap blast, sesuai ditanam di awal musim hujan.
IR – 64
115
5
Tekstur nasi pulen, tahan terhadap wereng coklat, agak tahan terhadap hawar daun bakteri, dapat ditanam pada musim kemarau.
Batang Piaman
125
4,4
Tekstur nasi pera, tahan terhadap blas, baik ditanam pada awal musim hujan.
Batang Lembang
125
4,1
Tekstur nasi pera, tahan terhadap blas, biak ditanam pada awal musim hujan.


·         Perbaikan Teknik Bercocok Tanam
Persemaian dapat menggunakan sistim kering atau sistim basah tergantung dengan situasi setempat. Pemilihan lokasi persemaian tanah harus baik atau subur, cukup sinar matahari, kelengasan tanah cukup atau dekat sumber air, dan aman dari gangguan hewan. Tanah perlu dibersihkan dari sisa akar tumbuhan, untuk semai kering perlu diberi 1 kg abu/m2, benih ditebar dengan kepadatan 200 – 250 gr/m2, pemberian pupuk urea dan KCl masing-masing 5 gr/m2 setelah berumur 10 hari. Pengendalian hama dilakukan sesuai dengan kondisi.
Jarak tanam sebaiknya dengan sistim legowo yang disesuaikan dengan petakan sawah dengan tetap menjaga jumlah tanaman per areal tidak terjadi penurunan. Jajar legowo – 5 dengan jarak tanam 20 x 20 cm untuk 3 baris ditengah dan 10 cm dalam barisan untuk 2 baris dipinggir. Sistim ini memudahkan dalam pengendalian hama dan penyiangan gulma.
Pegolahan lahan dapat dengan sistim olah tanah atau tanpa olah tanah, dengan mempertimbangkan biaya, tenaga kerja dan waktu yang tersedia.

·         Pemupukan Berimbang
Pemupukan yang sesuai dengan berdasarkan dari kesuburan tanah lokasi pengembangan dem area. Oleh karena itu sebelum Pelaksanaan replikasi demontrasi area, terlebih dahulu dilakukan analisa kesuburan tanah lokasi kegiatan. Untuk lahan masing-masing pengembangan kegiatan replikasi lahan rawa lebak dilakukan pengujian kesuburan tanah sehingga akan diperoleh rekomendasi yang tepat utnuk pelaksanaaan pemupukan. Sedangkan untuk demontrasi area yang sudah di lakukan di ketiga lokasi,  berdasarkan hasil analisa tanah dari masing-masing diperoleh rekomendasi pemupukan sebagai tabel  berikut.

Tabel 16.  Rekomendasi Pemupukan berdasarkan Hasil Karakterisasi Biofisik.
Lokasi
Urea
SP-36
KCl
Dolomit
Sumber Makmur
0 kg/ha
0 kg/ha
0 kg/ha
110 kg/ha
Tanjung Mulia
32,5 kg/ha
35 kg/ha
0 kg/ha
3.500 kg/ha
Air Hitam
240 kg/ha
35 kg/ha
100 kg/ha
200 kg/ha

Tingkat keasaman dari masing-masing lokasi berkisar pH 4,5 – 5,5 (hasil pengamatan November 2005)

Waktu dan cara pemberian pupuk, dolomit diberikan pada saat pengolahan tanah dan hanya satu kali dalam satu musim, sepertiga bagian pupuk Urea dan seluruh pupuk SP36 dan KCl diberikan pada saat tanam, dan dua pertiga pupuk Urea diberikan pada saat tanaman berumur 1 bulan.

·         Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit mengacu pada pengendalian hama terpadu (PHT) antara lain menyangkut 3 aspek biologis melalaui pemilihan varietas unggul, mekanis disesuaikan dengan jenis serangan OPT dan kimiawi melalui penerapan pestisida yang ramah lingkungan.

·         Panen dan Paska Panen
Kehilangan hasil padi di lahan lebak cukup tinggi yaitu mencapai 12,5%, diantaranya disebabkan oleh penentuan saat panen, cara panen dan prosesing. Penentuan saat panen yang tepat adaah dengan mengethui secara pati umur tanaman dan melihat tanda tanda fisik. Tanaman padi sebaiknya dipanen pada saat telah memasuki fase masak fisiologis, yang ditandai dengan bilir gabah tlah berisi penuh, keras, kulit berwarna kekuningan. Jika kondisi demikian telah merata pada seluruh petak, walaupun daun kadang masih berwarna hijau, maka panen talah bisa dilaksanakan. Pada fase masak fisiologis persentase kerontokan gabah akibat kegiatan panden sedikit.
Selain penentuan saat panen yang tepat, penggunaan alat juga sangat berpengaruh terhadap kehilangan hasil. Pemanenan sebaiknya menggunakan sabit bergerigi karena dinilai lebih efektif dan dapat mengurangi kerontokan gabah. Perontokan dapat digebuk sebaiknya menggunakan mesin perontok. Perlu diperhatikan kecepatan putaran mesin. Pada putaran 500 – 600 rpm memberikan hasil yan baik.
Untuk mengetahui keberhasilan atau produktivitas usaha tani dilakukan ubinan. Ubinan dilakukan di 3 tempat dalam Dem Area dan 2 tempat di luar Dem Area dengan pola menyebar. Dari hasil ubinan tersebut akan diketahui hasil di areal Dem Area yang dibandingkan langsung dengan hasil di luar Dem Area. Untuk mengetahui keberhasilan dari aspek ekonomis, dilakukan analisa usaha tani untuk mengetahui RC ratio dari hasil kegiatan Dem Area.

C.   Kegiatan Pengembangan Lahan Lebak

1.   Sosialisasi Program

Sosialisasi ditujukan kepada para petani peserta replikasi dem area. Sosialisasi ini bertujuan agar para petani calon peserta replikasi dem area memahami betul maksud dan tujuan diselenggarakannya replikasi dem area, sehingga pada saatnya mereka mampu melaksanakan kegiatan tersebut.
Untuk mencapai keberhasilan kegiatan ini perlu pemantapan dan pertemuan koordiasi antara Dinas Pertanian Kabupaten dengan instansi yang terkait dengan pelaksanaan replikasi dem area.

2.   Penentuan Calon Petani dan Calon Lokasi

Penetapan calon petani peserta replikasi demontrasi area berdasarkan persyaratan sebagai berikut:
·         Petani yang tergabung dalam kelompok tani yang merupakan pemilik atau biasa mengelola di lahan yang terpilih sebagai lokasi replikasi demontrasi area.
·         Sudah terbiasa mengelola usahatani dan bersedia melaksanakan replikasi demontrasi area sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
·         Tanggap dan mampu menerapkan paket anjuran yang akan diterapkan dalam kegiatan replikasi demontrasi area.
Sedangkan untuk penetapan calon lokasi replikasi demontrasi area harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
·         Lokasi replikasi demontrasi area bukan lahan demontrasi area awal.
·         Lokasi replikasi demontrasi area ditetapkan oleh Dinas Pertanian dengan mempertimbangkan potensi pengembangan yang dimiliki sebagai dasar untuk replikasi selanjutnya.
·         Lokasi tersebut merupakan lahan lebak yang sudah biasa dikelola oleh petani dan ada sarana infra struktur meskipun belum optimal atau memadai.
·         Lokasi cukup strategis, mudah dijangkau dan diawasi atau dibina sehingga terjamin keberhasilannya.

3.   Pembinaan dan Bimbingan Terhadap Petani dan Kelompok Tani

Pembinaan dan bimbingan terhadap petani/kelompok tani peserta replikasi dem area dilaksanakan sejak dari tahap persiapan sampai dengan tanam, paden dan pasca panen yang dilakukan oleh konsultan kabupaten (DCT) serta Penyuluh Pertanian Lapangan dengan bekerjasama dengan petugas yang terkait dan kepala desa. Pembinaan ini bertujuan agar petani dan kelompok tani pelaksana replikasi dem area lebih bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kegiatan dem area sehingga berhasil sesuai dengan yang diharapkan serta dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat di areal sekitarnya.
Peningkatan kapasitas kelembagaan sangat penting pada kegiatan replikasi demontrasi area, karena kelompok tani tidak saja sebagai wadah berkumpulnya petani tetapi juga sudah dikembangkan sebagai lembaga usaha bersama dimana kelompok tani sudah mengelola dana sesuai dengan modal yang diberikan dalam bentuk saprodi dan sarana usahatani lainnya. Kelompok tani sudah harus membukukan transaksi keuangan dan pengurus melaksanakan pertanggungjawaban kepada anggota kelompok secara periodik. Pada kelompok tani yang sudah mulai berkembang akan muncul aktivitas baru berupa kegiatan keuangan mikro. Pada bagian ini diperlukan adanya pendampingan yang cukup intensif dan oleh orang yang mengerti dan memahami aktifitas keuangan mikro. Jika ini mulai berjalan maka hubungan program dapat dikembangkan dengan kegiatan koperasi atau LKM yang ada di desa.

4.   Revitalisasi Kelembagaan Pendukung

Lembaga pendukung sistim usaha tani dibedakan antara lembaga non bisnis dan bisnis. Lembaga pendukung non bisnis antara lain Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan kelompok tani, yang merupkaakan lembaga pendukung usahatani dalam pendamingan, penyampaian informsi teknologi serta pengerahan partisipasi masyarakat. Lembaga bisnis pendukung usahatani merupakan lembaga yang mencari keuntungan, oleh karena itu keberadaa lembaga ini tergantung pada ada tidaknya kegiatan bisnis dan bekerjanya mengikuti mekanisme pasar. Lembaga ini antara lain kios saprodi, usaha pelayana jasa alsintan, usaha pemasaran pertanian, lembagan penyedia permodalan dan lain-lain.
Jika di tingkat kelompok tani sudah berkembang maka perlu dikaitkan dengan kelembagaan lain yang menunjang. Kelembagaan penunjang tersebut antara lain koperasi atau lembaga keuangan non bank dan lumbung desa. Lembaga keuangan akan menunjang kegiatan usaha tani sesudah kegiatan replikasi. Sedangkan lumbung desa sebagai penampung pada saat panen.
Bangunan lumbung desa telah dibangun oleh Pemerintah pada desa-desa yang menjadi sentra produksi padi. Pemerintah perlu mendampingi pada saat awal pelaksanaan dan membantu permodalan untuk membeli gabah hasil panen petani. Dengan adanya lumbung desa ini diharapkan tidak terjadi harga yang anjlok pada saat panen raya terjadi. Untuk selanjutnya di tingkat kabupaten lumbung desa ini perlu dikoordinir dan difasilitasi dalam pemasaran oleh instansi yang terkait dengan menhubungkan dengan pihak swasta.

Tabel 17.  Rencana Pengembangan Kelembagaan Pendukung Replikasi Lahan Lebak Tahun 2007 - 2011
No
Jenis Prasarana
Rencana Pengembangan (unit)
Jumlah
2007
2008
2009
2010
2011
1
Kelompok Tani
30
30
30
30
30
150
2
Koperasi dan Lumbung Desa
10
10
10
10
10
50
3
Kios
5
5
5
5
5
25
4
Pasar
2
2
2
2
2
8
5
Bank
-`
1
-
-
1
2


5.   Rencana Pengadaan Sarana Produksi Pertanian

Untuk mencapai produktivitas yang optimal, paket teknologi usahatani dem area mengacru pada model usahatani yang telah dilakukan demontrasi area. Komponen paket teknologi yang sangat penting adalah pemupukan berimbang penggunaan benih bermutu (berlabel) dari verietas yang memiliki produktivitas yang tinggi.
Pengadaan sarana produksi untuk kegiatan replikasi demontrasi area meliputi  pengadaan benih unggul berlabel biru, pengadaan pupuk urea, SP-36, KCl, Kapur, herbisida, pestisida, dan rodentisida. Jumlah kebutuhan saprodi per hektar lahan untuk sementara disesuaikan dengan jumlah rekomendasi yang diperoleh dari karakterisasi biofisik pada saat persiapan pelaksanaaan demontrasi area. Jumlah ini belum tentu sama tiap lokasi tergantung dengan hasil karakterisasi yang akan dilaksanakan pada saat replikasi akan dimulai. Pendekatan sementara yang dapat dipakai adalah dengan menggunakan rerata dari rekomendasi di ketiga lokasi demontrasi area, sebagaimana yang telah tertuang dalam  pembahasan sebelumnya.
Tabel 18.  Rencana Pengadaan Saprodi Tahun 2007 - 2011
No
Jenis Agroinput
Satuan
Rencana Pengadaan (000)
Jumlah
2007
2008
2009
2010
2011
1
Benih
kg
 15,0
 15,0
 15,0
 15,0
 15,0
 75
2
Urea
kg
 140,0
 140,0
 140,0
 140,0
 140,0
 700
3
SP-36
kg
 35,0
 35,0
 35,0
 35,0
 35,0
 175
4
KCL
kg
 50,0
 50,0
 50,0
 50,0
 50,0
 250
5
Kapur
kg
1.500,0
1.500,0
1.500,0
1.500,0
1.500,0
 7.500
6
Herbisida
liter
 5,0
 5,0
 5,0
 5,0
 5,0
 25
7
Rodentisida
kg
 2,5
 2,5
 2,5
 2,5
 2,5
 13
8
Pestisida
liter
 1,0
 1,0
 1,0
 1,0
 1,0
 5

Sebagaimana yang tertuang pada Pedoman Umum pelaksanaan demontrasi area, bahwa sarana produksi disediakan oleh petani. Sedangkan droping dari proyek bersifat sebagai tambahan untuk memenuhi kekurangan. Pola ini dilakukan sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam melaksankan kegiatan replikasi demontrasi area.
Tabel 19.  Rencana Pengadaan Sarana Usahatani Tahun 2007 – 2011.
No
Jenis Sarana
Satuan
Rencana Pengadaan
Jumlah
2007
2008
2009
2010
2011
1
Hand Sprayer
unit
 100
 100
 100
 100
 100
 500
2
Traktor Tangan
unit
 5
 5
 5
 5
 5
 25
3
Perontok
unit
 7
 7
 7
 7
 7
 33

Pemberian sarana produksi ini merupakan bantuan kepada kelompok tani yang dikembalikan kepada pemerintah daerah. Pengembalian dana ini digunakan untuk biaya replikasi pada tahun yang akan datang. Besarnya pengembalian ini diatur oleh Tim Teknis Pengembangan Lahan  Rawa Lebak Kabupaten Mukomuko.
Sedangkan saprodi yang diterima oleh petani merupakan pinjaman petani kepada kelompok, yang harus dibayar ketika sudah panen atau sesuai dengan kesepakatan yang telah berlaku di kelompok. Hasil pembayaran ini yang disetorkan kepada pemerintah daerah.

6.   Rencana Pembangunan Prasarana Pertanian

Keberhasilan pengelolaan lahan rawa lebak perlu didukung oleh prasarana air yang baik, prasarana pendukung yang berkaitan erat dengan usahatani di lahan rawa lebak antara lain jaringan irigasi tingkat usaha tani dan jalan usaha tani.
Model pengairan yang baik di lahan rawa lebak akan menciptakan kondisi pengaturan tata air yang baik. Sistim tata air yang baik dapat mengatur dan mengontrol djebit air yang dibutuhkan oleh tanaman dan debit air yang harus dibuang dari lahan pertanian. Hal ini berfungsi dengan baik bila pembuatan dan desain jaringan tata air mikro sesuai dengan sifat dan karakteristik lahan setempat.
Beberapa keradaan yang perlu dicermati dalam pembuatan sistim pengelolaan tata air di lahan rawa lebak antara lain :
1.        lahan rawa tergenang di musim hujan, kedalaman air bervariasi tergantung golongan lebak dangkal, menengah atau dalam.
2.        cepat atau lambatnya air surut pada permulaan musim kemarau, sangat tergantung pada dreainase alam yang ada.
3.        bila drainase alam terlalu besar maka kurang baik untuk pertanian, karena belum selesai waktu tanam, air dilahan pertanian sudah kering.
4.        bila drainase terlalu kecil bagian tengah yang biasanya lebih dalam akan sangat terlambat sekali kesempatan untuk ditanami.

Dari kondisi tersebut, maka ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
1.    drainase alam dinormalkan saja.
2.    drainase alam diperpanjang lagi supaya air keruh dari sungai besar dapat dibawa lebih jauh ke dalam daerah lebak supaya areal sawah dapat diperluas.
3.    perlu dibangun pintu air ditempat yang aman, yang berfungsi untuk menahan air di dalam lebak agar tidak terlalu cepat kering pada awal musim kemarau dan untuk menahan air sungai beras agar tidak masuk ke lahan sebelum petani selesai panen.
4.    akan lebih baik bila dibuat tanggul keliling areal lebak agar air dapat dikendalikan sepenuhnya, selain itu tanggul berfungsi sebagai jalan usahatani.
Berdasarkan gambaran diatas, pembangunan prasarana pertanian yang direncanakan adalah Tata Air Mikro yaitu pembangunan atau saluran di tingkat usaha tani, saluran tersier dan saluran pembuang.

Tabel 20.  Rencana Pengembangan Prasarana Pertanian dari Tahun 2007 – 2011


No
Jenis Prasarana
Satuan
Rencana Pengembangan (m/Ha/unit)

2007
2008
2009
2010
2011
1
Saluran Tingkat Usahatani
m
 6.000
 6.000
 6.000
 6.000
 6.000
2
Saluran Tersier
m
 1.500
 1.500
 1.500
 1.500
 1.500
3
Saluran Pembuang
m
 1.000
 1.000
 1.000
 1.000
 1.000
4
Jalan Usahatani
m
 10.000
 10.000
 10.000
 10.000
 10.000
5
Embung/Tabat
unit
 1
 1
 1
 1
 1



Saran Untuk Dibaca:
Penyuluhan berorientasi Petani




V.          PRAKIRAAN DAMPAK



Dampak yang terjadi secara langsung akan dirasakan melalui kegiatan ini adalah peningkatan areal sawah pada lahan lebak yang akan diikuti dengan peningkatan produksi. Perkiraan perkembangan luas lahan dengan pendekatan adopsi petani yang menyebar di sekitar lahan demontrasi area yang diikuti dengan adopsi di sekitar lahan replikasi dengan asumsi IP 200 dapat digambakan pada tabel berikut ini.
Tabel 21.  Perkiraan dampak Luas lahan dan Produksi Padi Replikasi Demontras Area Tahun 2007 – 2011

Uraian
Pengembangan
2007
2008
2009
2010
2011
Lahan replikasi Dem Area (Ha)
500
500
500
500
500
Luas lahan replikasi komulatif (Ha)
        686
     1.351
     2.175
     3.197
     4.464
Jumlah luas lahan replikasi (Ha)
        165
        324
        522
        767
     1.071






Jumlah Dampak Luas Lahan (Ha)
        851
     1.675
     2.697
     3.964
     5.535






Perkiraan Produksi (ton)
     3.828
     7.537
    12.135
    17.838
    24.909

Di Tahun 2006 dilakukan kegiatan demontrasi area yang memberikan dampak pengganda luasan lahan pada pada daerah sekitarnya seluas 36 Ha. Luas lahan padi sawah ini juga mempengaruhi penyebaran informasi untuk kegiatan berikutnya sehingga memberikan dampak luas lahan secara komulatif di tahun 2007 menjadi 686 ha dengan luas replikasi pada tahun tersebut 165 ha. Sehingga luas tanam pada tahun tersebut mencapai 851 ha. Dampak pengganda juga terjadi untuk tahun selanjutnya yang menyebar secara adoptif ke daerah sekitarnya replikasi demontrasi area.
Dampak yang paling penting adalah peningkatan produktivitas, jika diasumsikan bahwa produktivitas lahan 4,5 ton per ha[1], bahwa untuk dilahan lebak saya di tahun 2007 telah menghasilkan padi sebanyak 3.828 ton. Ditahun 2008 produksi mencapai 7.537 ton, sebuah jumlah produksi seluruh padi sawah se Kabupaten Mukomuko di tahun 2004. Untuk tahun berikutnya angka produksi padi total kabupaten sudah disampai dengan produksi dari lahan lebak saja. Sehingga di tahun ini benar-benar swasembada beras dapat diwujudkan.
Dampak lain adalah dalam penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Berdasarkan hasil analisa sosial ekonomi pada saat karakterisasi tahun 2005 diperoleh curahan tenaga kerja untuk satu musim tanam (sekitar 3 - 4 bulan) dibutuhkan tenaga 171 HOK per Ha. Jika direratakan dalam sebulan membutuhkan curahan tenaga kerja sebanyak 42 HOK per Ha.
Tabel 22.  Perkiraan dampak Serapan Tenaga Kerja  pada Replikasi Demontras Area Tahun 2007 – 2011
Uraian
Pengembangan
2007
2008
2009
2010
2011
Jumlah Dampak Luas Lahan (Ha)
        851
    1.675
     2.697
     3.964
     5.535
Serapan HOK
 290.919
 572.779
 922.286
1.355.675
 1.893.077
Jumlah Orang Kerja
     1.212
    2.387
     3.843
       5.649
        7.888

Secara langsung  kegiatan replikasi demontrasi area ini telah membuka lapangan pekerjaan kepada 1.212 orang di tahun 2007 dan lebih dari 7 ribu orang orang di tahun 2011. Lapangan kerja baru juga akan bermunculan baik dari sisi usaha penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian ataupun dar sisi penjualan hasil pertanian.



[1]  Ubinan dari loksi demontrasi area belum dapat diambil, karena pada saat penulisan proposal replikasi demontrasi area ini belu panen. Angka yang digunakan adalah angka produktivitas lahan pada saat dilakukan karakterisasi yang diperoleh angka 4,5 – 6 ton per hektar.

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda

Blog Archive

Blogger Bengkulu

Warung Blogger

Posts Terbaru

Popular Posts

Follow by Email