Sabtu, 06 Maret 2010

00.25.00 No comments

Sering kita mendengar ungkapan “Ini pendapatku, itu pendapatmu”. Ungkapan itu muncul akibat adanya pandangan yang berbeda dari dua orang atau lebih dalam menilai sesuatu. Hal ini tentu sering dialami oleh semua orang, apakah itu muncul dari orang awam atau kalangan intelektual sekalipun.
Sebagai contoh dapat dikemukakan disini. Persepsi masyarakat terhadap penilaian tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi Bengkulu 7,9 SR tanggal 12 September 2007 lalu. Perbedaan ini terjadi dalam penilaian satu objek kerusakan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri, perangkat desa, tim satkorlak kecamatan sampai kabupaten bahkan tim provinsi. Persepsi inilah yang mengakibatkan terjadinya “konflik” dalam penyaluran bantuan. Masyarakat banyak yang melakukan complain dengan argumen mengapa yang rusak lebih besar atau lebih parah diberi label kuning, sementara ada ringan diberikan label merah. Tentunya ini berdasarkan persepsi masyarakat yang berbeda dengan tim yang memberikan label tersebut.

Pemikiran relative ini ternyata, bila dikaji lebih dalam, pada pandangan objek tertentu dapat membahayakan bagi seseorang. Jika tidak direnungkan lebih jernih akan menggiring seseorang kepada sikap mengingkari adanya penciptaan atau peran penciptaan Allah SWT. Dengan pengingkaran terhadap fakta penciptaan ini maka membuat seseorang dapat mengingkari terhadap penciptaNya. Pada kesempatan ini kita mencoba untuk mendiskusikan bahaya pola pikir relativisme terhadap seseorang dan dampak bagi dirinya dan lingkungannya.
Contoh kasus diatas adalah menggambarkan pola pemikiran relativisme. Segala sesuatu itu relatif terhadap subyek yang memandang sesuatu itu. Seseorang yang menilai sesuatu tergantung dari informasi yang diperoleh seseorang itu dari lingkungannya. Informasi itulah yang akhirnya membentuk pola fikir (fikroh). Pola fikir ini yang akan menjadi kerangka landasan seseorang dalam menilai dan melaksanakan sesuatu.
Pola fikir reltivisme ini semakin populer setelah dikemukakannya teori relaitivitas oleh Albert Einstein dalam postulatnya pada poin yang pertama yang berbunyi “ sesuatu bergerak dapat dikatakan bergerak secara relatif terhadap benda lain”. Dalam kehidupan kita dapat dicontohkan adalah 2 orang yang sedang naik mobil, bagi dia yang ada di dalam mobil tidak bergerak, tetapi hanya duduk saja padahal menurut yang melihatnya di pinggir jalan dia bergerak bersama mobil. Ini menunjukkan 2 orang bergerak relatif terhadap orang yang melihat di pinggir jalan. Atau kita yang berada di dalam kereta api melihat tiang listrik bergerak menjauhi kita. Menurut orang yang ada didalam kereta api tiang listrik yang bergerak, padahal dia tetap tertancap ditanah.
Relativitas merupakan hasil perkembangan fisika modern. Seiring dengan perkembangan teknologi penyebarannya, maka pemikiran itu telah menjadi pola pemikiran banyak orang saat ini. Akibatnya adalah apabila penerapannya tidak proporsional maka akan membahayakan diri manusia itu sendiri. Seseorang akan menilai segala sesuatu atau orang lain,  berdasarkan persepsi atau selera masing-masing. Sehingga kebenaran itu berdasarkan pada pada penilainya, tidak ada kebenaran yang hakiki. Gejala demikian ini banyak menimpa dikalangan generasi muda dan intelektual, yang menerapkan kebebasan berfikir. Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi. Sifat kritis, termasuk kritis dalam beragama sangat diharapkan sehingga akan ditemukan keyakinan yang mantap.
Kita dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT pada mahluk ciptaannya, yaitu alam semesta, bumi, langit dan seisinya. Tanda tanda itu merupakan sunnatullah atau hukum alam (law of nature) yang tetap. Sebagaimana firman Allah pada QS 30:30 “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Islam, sesuai dengan fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Hukum alam yang Allah ciptakan tidak mengalami perubahan, dia tetap berlaku dan berjalan sampai berakhirnya dunia ini. Untuk memahaminya manusia sudah dianugrahi akal. Akal juga memiliki fitrah berupa kaidah-kaidah dalam melakukan pemikiran dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapinya. Ketika akal mendapatkan informasi atau melihat objek, secara otomatis akal bekerja untuk melakukan identifikasi terhadap informasi atau objek itu. Proses indentifikasi berjalan berdasarkan hukum logika. Misalnya seseorang yang melihat benda. Benda yang dilihtanya pasti memiliki jumlah, meskipun dia tidak sanggup untuk menghitungnya. Apabila ada orang yang melihat benda dan tidak mengakui jumlahnya (satu, dua, tiga atau banyak) maka orang tersebut dapat dikatakan mengalami kelainan mental. Karena salah satu hukum logika menyatakan bawa sesuatu benda itu memiliki jumlah karana sunnatullah (hukum alam) benda menermpati ruang dan mempunyai massa.
Letak persoalan yang harus kita fahami didalam berfikir atau memahami/menganalisa sesuatu adalah bagaimana kita memandang objek, bukan pada objeknya. Sifat dasarnya adalah obyektif oleh karenanya  hukum logika yang melihat subyek pada manusia dengan sendirinya bersifat obyektif. Jika hukum logika sifat dasarnya relative maka manusia tidak akan pernah berhasil memahami hukum alam yang bersifat mutlak, atau yang dikenal dengan pasti. Sehingga muncul adanya ilmu pasti seperti ilmu fisika, kima, biologi, sosiologi dan lain sebagainya.
Orang yang mengingkari adanya hukum mutlak, menunjukkan kebobohannya terhadap hukum logika atau sedang mengalami kelainan mental. Jika orang tersebut belum memahami hukum logika, dianjurkan untuk kembali mempelajari ilmu pasti (matematikan dan ilmu pengetahuan alam). Ilmu tersebut yang akan membimbing kepada pemahaman kaidah-kaidah logika yang dimiliki oleh akal manusia dengan menggambarkannya melalui huruf dan angka yang sederhana, dikenal adanya rumus atau formula.
Apabila ada orang yang mengingkari kebenaran Al Quran sebagai wahyu Allah yang bersifat mutlak, berarti orang tersebut tidak memahami hukum logika. Atau dapat dikatakan sebagai orang yang ideot. Dikenal dalam dalam sejarah klasik sebagai orang jahiliyah (kebodohan).
Kemudian kita juga sering mendengar adanya pernyataan “ini semua merupakan karya manusia, sedangkan manusia tidak lepas dari kelemahan”. Pernyataan ini bisa benar tidapi tidak benar. Manusia benar diciptakan sebagai mahluk lemah (dhoif). Tetapi dalam memandang suatu masalah bukan terletak pada manusianya, akan tetapi pada objek yang sedang dipermasalahkan. Apakah objek itu bersifat relative atau mutlak. Jika kita mengatakan objek itu relativ padahal objek tersebut ciptaan Allah, berarti telah terjadi perubahan hukum alam. Dengan kata lain kita menganggap Allah selalu merenovasi hasil ciptaanya. Berati Allah tidak sempurna dan banyak kelemahan-kelemahan, sehingga perlu adanya perbaikan-perbaikan. Gambaran demikian ini jelas menunjukkan sikap kekafiran terhadap Allah SWT yang maha sempurna.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda

Blog Archive

Blogger Bengkulu

Warung Blogger

Posts Terbaru

Popular Posts

Follow by Email

Silahkan diikuti