Suatu Kajian Kritis terhadap Pesan Publik di Ruang Kota
Di salah satu
ruas jalan di salah satu Kota di Provinsi Bengkulu berdiri sebuah baliho
berukuran besar dengan tulisan mencolok: "3 JUTA RUMAH Untuk Bumi Merah
Putih BENGKULU." Baliho tersebut menampilkan foto pejabat daerah yaitu Gubernur dan Wakil Gubernur, warna-warna
yang identik dengan semangat nasionalisme, serta narasi yang memberikan kesan
bahwa Provinsi Bengkulu menjadi bagian penting dari program nasional
pembangunan perumahan.
![]() |
| Baliho 3 Juta Rumah Untuk Bumi Merah Putih |
Sekilas, pesan
tersebut membangkitkan optimisme. Di tengah tingginya kebutuhan rumah layak
huni di Indonesia, siapa yang tidak berharap masyarakat dapat memiliki tempat
tinggal yang layak? Namun, apabila baliho itu dibaca secara kritis, muncul
pertanyaan mendasar: apakah masyarakat dapat memahami bahwa angka "3
juta rumah" merupakan target nasional, ataukah muncul persepsi bahwa Bengkulu
sendiri akan memperoleh tiga juta rumah?
Pertanyaan ini
penting karena komunikasi publik tidak hanya berbicara mengenai apa yang benar
secara administratif, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat menangkap makna
sebuah pesan.
Memahami Konteks Program Nasional
Program 3 Juta
Rumah merupakan salah satu program strategis Pemerintah Indonesia untuk
memperluas akses hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Target tersebut
merupakan target nasional, bukan target untuk satu provinsi. Pemerintah
merencanakan pembangunan sekitar dua juta rumah di wilayah pedesaan dan satu
juta rumah di kawasan perkotaan secara bertahap dalam kerangka pembangunan
nasional.
Artinya, apabila
sebuah baliho hanya menampilkan tulisan besar:
3 JUTA RUMAH
Untuk Bumi Merah Putih Bengkulu
tanpa penjelasan
bahwa angka tersebut adalah program nasional, maka secara komunikasi
visual masyarakat dapat menangkap kesan bahwa Bengkulu akan memperoleh tiga
juta rumah.
Di sinilah muncul
persoalan komunikasi publik.
Bengkulu dalam Perspektif Statistik
Menurut data
Badan Pusat Statistik hasil SUPAS 2025, jumlah penduduk Provinsi Bengkulu
sekitar 2,14 juta jiwa.
Jika menggunakan
rata-rata anggota rumah tangga Indonesia sekitar empat orang, maka kebutuhan
rumah tangga di Bengkulu berada pada kisaran:
- sekitar 500–600 ribu rumah tangga.
Dengan demikian,
apabila seseorang memahami baliho tersebut secara harfiah bahwa Bengkulu akan
memperoleh 3 juta rumah, maka jumlah rumah itu justru jauh melebihi
jumlah rumah tangga yang ada di provinsi tersebut.
Secara sederhana:
- Penduduk Bengkulu ≈ 2,14 juta jiwa
- Rumah tangga diperkirakan ≈ 550 ribu
- Angka tiga juta rumah ≈ lebih dari lima kali kebutuhan rumah
tangga.
Secara matematis
tentu tidak masuk akal apabila tiga juta rumah benar-benar dibangun hanya di
Bengkulu.
Karena itu,
masyarakat yang memahami konteks nasional kemungkinan tidak akan salah
menafsirkan. Namun masyarakat umum yang hanya melihat baliho beberapa detik
saat berkendara berpotensi memperoleh kesan yang berbeda.
Antara Komunikasi Publik dan Komunikasi Politik
Dalam ilmu
komunikasi politik dikenal konsep framing, yaitu bagaimana suatu
informasi dibingkai agar menghasilkan persepsi tertentu.
Angka besar
selalu memiliki daya tarik psikologis.
Misalnya:
- satu juta pohon,
- sejuta beasiswa,
- tiga juta rumah.
Angka yang besar
memberikan kesan bahwa pemerintah sedang bekerja dalam skala luar biasa.
Bukan berarti
angka tersebut salah.
Yang menjadi
persoalan adalah konteksnya.
Apabila konteks
nasional tidak dijelaskan secara memadai, maka angka tersebut dapat berubah
menjadi alat pencitraan politik yang lebih dominan dibandingkan fungsi edukasi
kepada masyarakat.
Dalam foto
tersebut, ukuran tulisan "3 JUTA RUMAH" jauh lebih besar
dibandingkan penjelasan lainnya.
Secara psikologi
visual, mata pembaca pertama kali menangkap angka tersebut.
Sementara
penjelasan mengenai sifat program nasional menjadi kurang menonjol.
Inilah yang
disebut sebagai komunikasi simbolik.
Apakah Berlebihan?
Jawabannya
bergantung pada sudut pandang.
Dari sisi pemerintahan
Tidak.
Karena pemerintah
memang memiliki hak untuk menyosialisasikan program nasional.
Program besar
memang memerlukan publikasi agar diketahui masyarakat.
Dari sisi komunikasi publik
Bisa dikatakan kurang
proporsional apabila tidak disertai informasi yang memadai mengenai:
- target Bengkulu,
- jumlah rumah yang akan dibangun,
- penerima manfaat,
- waktu pelaksanaan.
Masyarakat justru
membutuhkan informasi yang konkret.
Misalnya:
Bengkulu
memperoleh target sekian ribu unit rumah.
atau
Tahun 2026
dibangun sekian unit.
Informasi seperti
ini jauh lebih informatif dibandingkan hanya mengulang slogan nasional.
Realitas Pelaksanaan di Bengkulu
Pelaksanaan
Program 3 Juta Rumah di Bengkulu sendiri masih berada pada skala ribuan unit,
bukan jutaan. Berbagai laporan menunjukkan target pembangunan maupun bantuan
rumah di Bengkulu berada pada kisaran ribuan unit setiap tahun, termasuk target
pengembang sekitar 1.500 unit dan kuota bantuan BSPS sekitar 1.172 unit pada
tahun 2026.
Fakta ini menunjukkan
adanya perbedaan yang sangat besar antara angka nasional yang menjadi
slogan dengan realisasi daerah yang memang disesuaikan dengan kebutuhan
dan kapasitas Bengkulu.
Risiko Membangun Ekspektasi
Komunikasi
pembangunan yang terlalu menonjolkan slogan memiliki risiko.
Pertama,
masyarakat membangun harapan yang sangat tinggi.
Kedua, ketika
realisasi tidak sesuai persepsi, masyarakat menjadi kecewa.
Ketiga,
kepercayaan terhadap pemerintah dapat menurun.
Padahal yang salah
bukan programnya, melainkan cara penyampaian informasinya.
Kepercayaan
publik dibangun melalui informasi yang akurat, bukan hanya informasi yang
menarik.
Perspektif Etika Pemerintahan
Pemerintahan
modern dituntut menjalankan prinsip:
- transparansi,
- akuntabilitas,
- keterbukaan informasi,
- komunikasi yang mudah dipahami.
Baliho publik
seharusnya tidak hanya menjadi media promosi.
Lebih dari itu,
baliho harus menjadi media edukasi.
Idealnya
masyarakat dapat mengetahui:
- berapa target Bengkulu,
- siapa penerima manfaat,
- bagaimana cara memperoleh bantuan,
- kapan pembangunan dimulai,
- berapa anggaran yang dialokasikan.
Informasi tersebut
jauh lebih bermanfaat dibandingkan slogan yang sangat besar tetapi minim
rincian.
Antara Optimisme dan Realisme
Tidak adil
apabila Program 3 Juta Rumah langsung dianggap sekadar pencitraan politik.
Indonesia memang masih menghadapi backlog perumahan dan kebutuhan hunian layak
yang besar sehingga program nasional ini memiliki dasar kebijakan yang nyata.
Namun, optimisme
tetap perlu diimbangi dengan realisme.
Keberhasilan
program tidak diukur dari ukuran baliho, melainkan dari:
- jumlah rumah yang benar-benar dibangun,
- kualitas bangunan,
- ketepatan sasaran penerima,
- keterjangkauan pembiayaan,
- keberlanjutan kawasan permukiman.
Jika
indikator-indikator tersebut tercapai, maka program layak diapresiasi.
Sebaliknya, apabila pesan publik lebih besar daripada hasil yang dirasakan
masyarakat, kritik terhadap cara komunikasinya menjadi wajar.
Penutup
Baliho "3
Juta Rumah untuk Bumi Merah Putih Bengkulu" merupakan contoh menarik
bagaimana sebuah media visual dapat menghasilkan dua pembacaan sekaligus. Di
satu sisi, ia menyampaikan semangat pembangunan dan menghubungkan Bengkulu
dengan agenda nasional. Di sisi lain, ukuran slogan yang dominan tanpa
penjelasan yang memadai berpotensi menimbulkan salah persepsi, seolah-olah
Provinsi Bengkulu sendiri akan menerima tiga juta rumah—sesuatu yang jelas
tidak sejalan dengan realitas demografi, mengingat jumlah penduduk Bengkulu
hanya sekitar 2,14 juta jiwa.
Kajian ini tidak
bertujuan menyimpulkan bahwa program tersebut adalah propaganda atau
semata-mata kampanye politik. Yang lebih penting adalah menekankan bahwa komunikasi
publik yang baik harus akurat, proporsional, dan kontekstual. Program
pembangunan memang layak dipublikasikan, tetapi publik juga berhak memperoleh
informasi yang jelas mengenai target daerah, capaian, serta manfaat yang dapat
mereka rasakan.
Pada akhirnya,
masyarakat akan menilai bukan dari seberapa besar angka yang tertulis di
baliho, melainkan dari seberapa banyak keluarga yang benar-benar memperoleh
rumah layak huni, menikmati lingkungan permukiman yang baik, dan merasakan
peningkatan kualitas hidup. Di situlah ukuran keberhasilan sebuah kebijakan
publik yang sesungguhnya.

0 Komentar
Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda