Minggu, 24 Juni 2018

Pada pengamatan sosial ekonomi dilakukan wawancara kepada 16 orang responden yang ada disekitar lokasi pembangunan. Wawancara dilakukan pada tanggal 13 – 18 September 2016. Reponden lak-laki sebanyak 43,75% dan wanita sebanyak 56,25%. Sedangkan umur responden kebanyakan pada usia 41 – 50 tahun.

Jumlah anggota keluarga responden secara rata-rata adalah 4 jiwa. Sedangkan terbanyak adalah 6 jiwa. Hal ini menunjukkan beban keluarga yang cukup besar. Jumlah anggota keluarga yang lebih dari 5 jiwa sebanyak 25% responden dan jumlah keluarga yang kurang dari 2 orang sebanyak 18,75%.

Distribusi responden
Pekerjaan responden terbanyak adalah petani yaitu 31,25% dikuti oleh pekerja proyek, wiraswasta dan ibu rumah tangga masing-masing 19%. Pekerja proyek posisi yang tertingga responden adalah mandor, yang lainnya adalah tukang dan pekerja biasa. Sedangkan untuk responden wiraswasta adalah ada yang memiliki usaha warung, baik warung yang menetap telah lama sebelum proyek ada atau warung makanan yang dimulai sejak adanya proyek. Konsumennya adalah para pekerja di sekitar proyek tersebut.
Dari sisi penghasilan per bulan responden rata-rata pada kisaran Rp.1 – 2 juta per bulan yaitu 50%. Sedangkan untuk range Rp.2 – 4 juta per bulan sebanyak 43%. Sisanya adalah berpenghasilan dibawah Rp.1 juta.

Hasil wawancara langsung dengan masyarakat dan pekerja pada bulan bulan September 2016, selanjutnya diolah dengan tabulasi sederhana diperoleh hasil sebagai berikut  :


Indikator
Penilaian Dampak Perubahan
(Persepsi Responden)
Keterangan
September 2016
Rata-rata Pendapatan
+
Rata-rata Rp.2.125.000
Meningkat 7,5%
Tenaga Kerja : Rp.3.000.000
Petani : Rp. 1.700.000
Petani terdampak: Rp.4.500.000
Wiraswasta Rp.2.485.000
Pemilik Kontrakan: 2.250.000
Peluang Usaha Baru
+
Pekerja Konstruksi, Warung Makanan, Rumah Kontrakan, Suplay material (12,5%)
Kondisi sarana Jalan Desa Dilalui Proyek
+
Baik, Saat Rusak Diperbaiki (25%)
Kenyamanan saat konstruksi (Debu/bising)
+
Gangguan Bersifat Sementara(25%)
Kebersihan lingkungan
-
Debu disekitar jalan dan dikendaraan(87,5%)
Kesehatan ibu dan bayi
-
Sakit Batuk, Gangguan Bising dapat diatasi (6,25%)
Pelayanan kesehatan
+
Berobat ke klinik (50%) dan Puskesmas (40%), Obat warung (10%)
Partisipasi masyarakat
+
Menghadiri Musyawarah, Menyiram Debu dan pelepasan hak tanah (35,7%)

+ = persepsi positif
- =  persepsi negatif




1.    Kesempatan kerja dan Peningkatan Pendapatan

Pelaksanaan proyek jalan tol ini, telah menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk setempat maupun penduduk dari luar daerah dalam jumlah banyak, terutama sebagai pekerja dan karyawan konstruksi jalan. Kesempatan kerja yang tersedia bersifat skill dan unskill, bahkan tercipta kesempatan kerja bersifat hight skill,  misalnya tenaga ahli konsultan dan manager kontraktor. Tenaga bersifat skill misalnya operator alat berat, tukang. Sopir dump truk, sopir mobil operasional, dan sejenisya.

Persepsi masyarakat terhadap kegiatan ini memberikan dampak posititf bagi peningkatan rata-rata pendapatan para pekerja. Persepsi positif ini konstruksi dan juga ketika konstruksi sudah berjalan selama satu tahun. Peningkatan pendapatan dapat dirasakan secara langsung bagi masyarakat yang ikut terlibat secara langsung sebagai pekerja.

Berdasarkan hasil wawancara pendapatan masyarakat, dilaporkan bahwa :
  • Rata-rata pendapatan pekerja konstruksi = Rp.3.000.000,-/bulan.
  • Rata-rata pendapatan usaha baru = Rp. 800.000,-/bulan.
  • Rata-rata pendapatan Petani/pemilik Lahan terdampak pembebasan =Rp.4.500.000,-
  • Rata-rata pendapatan wiraswasta/pedagang =Rp.2.485.000,-
  • Rata-rata pendapatan pemilik kontrakan rumah = Rp. 2.250.000,-.


Beberapa alasan yang diperoleh dari responden menyatakan bahwa pembangunan jalan tol memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya antara lain:
  •  Memberikan peluang kerja dan usaha baru
  • Terdapat kerjasama usaha bagi 6 jenis pengusaha lokal dengan kontraktor nasional, terutama dalam wujud suplai material tanah, rental mobil operasional, rental dump truk, suplai BBM, jasa survey serta jasa catering.
  • Meningkatkan penghasilan bagi masyarakat sekitar lokasi proyek. Penghasilan diperoleh dari hasil penerimaan uang ganti rugi tanah, membuka usaha warung makanan, jasa laundry, homestay/kontrakan rumah.

Hasil wawancara langsung dengan responden secara acak diperoleh informasi sebagai berikut :
  • Pendapatan berupa upah kerja operator, tukang, security,dan sejenisnya.
  • Penghasilan dari pembayaran uang ganti rugi lahan.
  • Penghasilan berdagang makanan dan jasa laundry pakaian.
  • Penghasilan dari homestay dan atau rumah kontrakan untuk kantor proyek, kantor konsultan dan mess karyawan proyek.

2.    Gangguan kesehatan,

Pekerja dan Penduduk sekitar menyampaikan keluhan, namun tidak terorganisir, keluhan disebabkan oleh pencemaran debu yang timbul di sekitar area produksi beton (Batching plant) dan area yang dilintasi kendaraan pegangkut material.

Kontaminasi debu merupakan penyebab timbulnya resiko penyakit batuk pada anak bayi disekitar area proyek. Hal tersebut dikeluhkan beberapa ibu pemilik bayi, khususnya yang bermukim di sekitar area batching plant.

Hasil pengamatan dampak pencemaran debu dapat dilategorikan  besar, karena melebihi baku mutu yang ditentukan. Namun bersifat temporary dan bisa diatasi dengan menyiram permukaan jalan dengan air secara rutin sebelum kendaraan melintas diareal yang berdebu.  Seperti yang terjadi di jalur kendaraan truk Desa Sawahan.

Dapat dijelaskan bahwa saat pengamatan dilakukan, masih dijumpai operasi dump truk melakukan up loading tanah di area proyek yang melintas jalan Desa sekitar jalan tol.
Kecepatan yang digunakan sopir dump truk saat melintas di jalan dekat pemukiman diperkikan melebihi kesepakatan yaitu 20 km /jam. Hal ini bila dibiarkan dapat menimbulkan sebaran partikel debu dalam jumlah banyak. Debu yang timbul dapat mengakibatkan resiko penyakit  batuk, sesak nafas  dan mengotori mata pengguna jalan serta mata pekerja proyek.

Upaya Penanganan dampak debu telah dilakukan dengan menyiram secara intensif dan pemakaian masker serta kacamata oleh pekerja konstruksi. Selain itu telah diberlakukan peraturan kecepatan laju truk angkutan tanah maksimal 20 Km/jam.


3.    Gangguan kebisingan.

Bising suara dikeluhkan beberapa warga di Desa sekitar, sumber utama gangguan kebisingan bukan saja dari operasi alat berat dan mesin diesel pabrik beton, tetapi juga disebabkan semakin meningkatnya lalu lintas truk pengangkut tanah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden warga yang ada disekitar lokasi proyek memberikan respon atas gangguan kebisingan. Akan tetapi respon masih positif karena belum terlalu tergaggu. Disamping itu yang sedang berlangsung masih jauh dari pemukiman.

4.    Kebersihan lingkungan

Kebersihan lingkungan jalan masuk kantor proyek di Desa Sekitar proyek terganggu oleh kotoran ceceran tanah, saat hujan menyebabkan becek dan licin. Untuk menangani masalah kebersihan kontraktor melakukan pembersihan ceceran tanah serta memberikan peringatan kepada sopir truk agar mencuci ban sebelum masuk ke jalan umum.
Kendaraaan umum banyak yang melintasi di area crossing sering terganggu dengan adanya ceceran tanah. Ceceran ini mengakibatkan debu dan kotornya kendaraan. Ceceran debu terjadi disepanjang jalan yang dilalui. Dengan kondisi ini masyarakat memberikan respon yang negatif yaitu lebih dari 85% aktivitas jalan tol mengganggu kebersihan lingkungan.
Fakta di lapangan, Kontraktor telah melaksanakan tindakan pencegahan pencemaran sampah dengan menyediakan bak sampah dan petugas kebersihan. Menyediakan toilet dan kamar mandi serta persediaan air bersih dalam jumlah cukup.

Fasilitas sanitasi sebagai sarana penunjang keperluan mandi-cuci-kakus (MCK) bagi karyawan proyek tersedia. Akan tetapi di beberapa titik kurang terawat kebersihannya.

a.    Kesehatan Ibu dan Bayi

Berdasarkan wawancara dengan kelompok ibu pemilik bayi, dapat diketahui bahwa beberapa ibu pemilik bayi merasa aktivitas konstruksi jalan tol  ini, mulai mengganggu kesehatan bayi. Gangguan disebabkaan karena debu dan  bising. Pengamatan langsung di lokasi yang terdampak pada  September 2016.  Oleh karena itu Penanggung jawab proyek telah memerintahkan agar kontraktor melakukan pengendalian jam operasi kendaraan dan jam operasi mesin diesel di sekitar Batching plant dan area yang diidentifikasi menimbulkan gangguan.

b.    Partisipasi dan Persepsi Masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan jalan tol di Paket 1 berupa kesediaan hadir dalam musyawarah pembebasan tanah, meyediakan tempat untuk peralatan proyek serta menjaga keamanan lokasi proyek.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap pekerja proyek, memiliki persepsi positif atas pelaksanaan konstruksi jalan tol ini, sebab penduduk setempat memperoleh kesempatan kerja, memperoleh pendapatan tambahan dan mempunyai usaha baru.





0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda

Blog Archive

Blogger Bengkulu

Warung Blogger

Posts Terbaru

Popular Posts

Follow by Email