Sabtu, 24 September 2011

08.56.00 1 comment
Oleh: Anton Sutrisno

A.  Latar Belakang
Kebutuhan bahan bakar untuk kegiatan industri pedesaan semakin meningkat. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan usaha kecil. Usaha kecil yang tumbuh di Desa Pal 30 Kecamatan Lais adalah pembuatan gula kelapa. Untuk memasak nira menjadi gula kelapa kebanyakan menggunakan kayu bakar. Sedangkan untuk memasak kebutuhan rumah tangga menggunakan minyak tanah. Bahan bakar dari kayu (biomassa) semakin sulit didapat. Lingkungan perdesaan tidak ada lagi hutan kecil. Hampir semua lahan belukar telah berubah menjadi perkebunan sawit dan karet. Kebutuhan kayu bakar harus dibeli dengan harga yang cukup mahal Rp.150.000,00 per m3. Untuk rumah tangga biasa dalam satu hari menghabiskan 0,25 m3, sedangkan untuk kegiatan usaha kecil yang digunakan untuk memasak nira kelapa hingga menjadi gula per hari menghabiskan 2 m3. Penyediaan kayu bakar saat ini masih diperoleh dari pembukaan lahan untuk perkebunan rakyat. Banyak masyarakat yang meremajakan kebun karet alam menjadi karet unggul, atau diganti dengan tanaman sawit. Pembukaan lahan kebun ini juga sudah jarang. Ditinjau dari pelestarian lingkungan hal ini tidak baik. Bertentangan dengan konsrvasi hutan dan energi berkelanjutan.

Kompor Biogas
Kompor Biogas di Rumah Ansori Pal 30 Lais

Kebutuhan bahan bakar lain adalah minyak tanah. Untuk satu rumah tangga menghabiskan 2 – 3 liter/minggu. Kebutuhan untuk usaha dapat mencapai 10 - 15 liter perminggu. Harga minyak tanah di desa lebih mahal dari bensin, bahkan pertamax sekalipun. Harus mengeluarkan uang yang lebih mencapai Rp7.000 – Rp.8.000 per liter. Untuk memperolehnya diperlukan kesabaran khusus pada saat antri minyak tanah. Jika terjadi kelangkaan minyak tanah, maka kayu bakar tinggal harapan satu-satunya sumber bahan bakar.
Dengan berbagai persoalan tersebut di atas. Diperlukan adanya sumber energi alternatif bagi masyarakat pedesan. Sumber energi yang dapat dihasilkan sendiri, dapat diproduksi, berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan memperoduksi sendiri, maka akan terjadi penghematan biaya. Sehingga dalam jangka panjang akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani tersebut. Tersedianya energi dalam jumlah yang cukup akan mendorong peningkatan produksi usaha industri gula merah, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Dimungkinkan juga akan terjadi diversifikasi usaha ditingkat pedesaan.

B.  Tujuan
  Melalui tulisan ini dicoba untuk melakukan analisis SWOT terhadap pembuatan biogas untuk penunjang industri di pedesaan, khususnya pengrajin gula kelapa di Desa Pal 30 Kecamatan Lais Kabupaten Bengkulu Utara.

C.  Analisa SWOT
1.  Kekuatan (Strength)
·         Ketersediaan ternak sapi. Hampir setiap kepala keluarga khususnya di dusun Hibrida Desa Pal 30 memiliki ternak sapi. Jumlah ternak yang dipelihara berkisar 2 – 7 ekor.
·         Kotoran ternak yang belum dimanfaatkan. Ada sebagian saja yang mengumpulkan kotoran ternak dengan dibuat bak penampungan dan diberi atap agar tidak kehujanan. Kebanyakan kotoran ternak dipinggirkan saja di luar kandang tidak dimanfaatkan. Padahal kotoran ternak ini dapat menjadi bahan baku biogas. Dimana satu ekor ternak dapat mengeluarkan kotoran 10 kg per hari. Jika satu keluarga memiliki 3 ekor sapi, maka dalam waktu 1 hari terdapat 30 kg kotoran ternak. Jumlah  kotoran tersebut memiliki potensi menghasilkan biogas sebanyak 840 liter atau sama dengan 0,52 liter minyak tanah per hari. Jika petani yang memiliki jumlah ternak lebih dari 4 maka kebutuhan bahan bakarnya bisa terpenuhi secara berkelanjutan.
·         Hasil ikutan lain yang dapat dimanfaatkan oleh petani adalah pupuk cair yang keluar dari outlet reaktor biogas. Pupuk tersebut siap diaplikasikan. Pupuk padat juga dapat diperoleh melalui pengendapan cairan yang keluar dari outlet. Dengan demikian petani dapat mendapatkan pupuk organik yang  gratis.
·         Mendukung program pelestarian lingkungan. Dengan tidak memakai kayu bakar, serta mengurangi emisi gas metana ke udara.

2.  Kelemahan (Weakness)
·         Teknologi dan cara pembuatan biogas belum diketahui oleh masyarakat. Belum ada contoh di sekitar desa yang dapat dijadikan bahan pertimbangan.
·         Masyarakat kebanyakan masih beranggapan nanti gas yang dikeluarkan akan berbau seperti yang ada pada kandang sapi.
·         Biaya pembuatan yang mahal relatif mahal untuk ukuran masyarakat desa, yang kebanyakan rumah tangga tidak mampu. Karena selain instalasi reaktor biogas, juga harus dilengkapi dengan instalasi selang untuk mengalirkan gas ke dalam rumah dan juga kompor.
·         Kebanyakan kotoran ternak belum dimanfaatkan, bahkan belum dikumpulkan untuk dikelola dengan baik, seperti menjadi pupuk.
·         Tidak praktis, dibanding dengan membeli gas LPG, tiap pagi harus mengisi reaktor dengan kotoran ternak.

3.  Peluang (Oportunity)
·         Sampai dengan saat ini belum ada, mungkin belum ditemui kegiatan pembuatan biogas yang berbasis masyarakat. Kebanyakan masih program pemerintah, seperti yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian kepada kelompok tani. Jika dilihat pada kebutuhan energi, rumah tangga yang dijadikan sasaran program hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga masih dapat diperoleh dari sambilan mengangkut kayu ketika pulang dari kebun. Akhirnya instalasi biogas yang sudah dibangun menjadi terlantar. Ini menjadi peluang untuk dapat membangun biogas sesuai dengan kebutuhan energi rumah tangga untuk kegiatan usahanya. Sehingga dalam pembuatan biogas agar dapat menggantikan minyak tanah dan kayu bakar.

4. Tantangan (Threat)
·         Belum ada dukungan dari pemerintah daerah dalam rangka memasyarakatkan penggalian potensi sumber energi terbarukan dan berkelanjutan. Pemerintah masih tertarik dengan tema-tema lama yaitu konversi minyak tanah ke gas.
·         Kompor gas subsidi 3 kg, yang dibagikan oleh pemerintah dirasakan lebih praktis dan mudah dibawa. Dengan bergulirnya program ini, membuat minat masyarakat terhadap biogas semakin berkurang.
·         Di Bengkulu belum ada penyedia atau pabrikan yang membuat perlengkapan pembuatan reaktor biogas. Jika mengambil pabrikan dari Bogor (yang kebanyakan sebagai suplier kegiatan di Bengkulu Utara selama ini), masyarakat terkendala pada suku cadang jika terjadi kerusakan, atau perlu pergantian, seperti pipa, keran, ataupun kompor. Keren keran dan pipa kebanyakan didesain atau dibuat khusus yang dipasaran tidak tersedia. Akan baik jika pembuatan reaktor biogas dapat memanfaatkan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar desa (Bengkulu Utara).

D. Strategi SW – OT
Berdasarkan analisa SWOT terseub di atas, juga dihasilkan 4 strategi pencapaian target, yang merupakan kombinasi dari keempat  analisis tersebut. Strategi tersebut yaitu:
1.       SO (Aggressive Strategy): Menggunakan kekuatan internal untuk mengambil kesempatan yang ada di luar.
2.        ST (Diversification strategy): Menggunakan kekuatan internal untuk menghindari ancaman yang ada di luar.
3.       WO (Turn Around) – Menggunakan kesempatan eksternal yang ada untuk mengurangi kelemahan internal.
4.       WT (Defensive strategy) – Meminimalkan kelemahan dan ancaman yang mungkin ada.

Biogas untuk Industri Pedesan
Strength
Weaknes
Oportunity
·         Pembuatan biogas di Pal 30 sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk penunjang bahan bakar industri kecil pengrajin gula kelapa.
·         Pembuatan reaktor biogas oleh masyarakat akan menjadi contoh dalam pemanfaatan potensi lokal. Masyarakat dapat membuat rekator sederhana
·         Penyuluhan teknologi biogas diperlukan.
·         Bersama masyarakat menghitung nilai ekonomis konversi bahan bakar minyak dan kayu ke biogas.
·         Biaya pembuatan hanya sekali, selanjutnya tinggal mengisi saja.
Threat
·         Diperlukan adanya program khusus, bisa dari LSM , CSR perusahan untuk mendanai awal model reaktor.
·         Membuat reaktor biogas dengan berbahan lokal, sehingga ada tranfer teknologi kepda masyarakat.
·         Kegiatan diprioritaskan pada pemilik usaha kecil terbesar, karena mereka yang paling banyak membutuhkan bahan bakar.
·         Dimungkinkan dengan revolfing fund untuk membiayai pembangunan rumah tangga berikutnya.

E.  Kesimpulan
Dapat disimpulkan ada beberapa kegiatan yang menunjang pembangunan Biogas untuk industri pedesaan khususnya pengrajin gula merah yaitu:
1.    Masyarakat dapat membuat rekator sederhana. Pembuatan reaktor biogas oleh masyarakat akan menjadi contoh dalam pemanfaatan potensi lokal.
2.    Penyuluhan teknologi biogas diperlukan. Bersama masyarakat menghitung nilai ekonomis konversi bahan bakar minyak dan kayu ke biogas.
3.    Diperlukan adanya program khusus, bisa dari LSM , CSR perusahan untuk mendanai awal model reaktor. Reaktor biogas dengan berbahan lokal, sehingga ada tranfer teknologi kepda masyarakat
4.    Kegiatan diprioritaskan pada pemilik usaha kecil terbesar, karena mereka yang paling banyak membutuhkan bahan bakar. Dimungkinkan dengan revolfing fund untuk membiayai pembangunan rumah tangga berikutnya

1 komentar:

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan masukkan komentar anda

Blog Archive

Blogger Bengkulu

Warung Blogger

Posts Terbaru

Popular Posts

Follow by Email

Silahkan diikuti